Kamis, 4 Juni 2026

Konsep Ketuhanannya Sama dengan Islam, Inilah Agama Leluhur Nusantara yang Sudah Ada Sejak Ribuan Tahun Lalu

Photo Author
Fadillah Nuzulul Rahman, Sketsa Nusantara
- Selasa, 16 Juli 2024 | 09:45 WIB
Ilustrasi - Agama yang diyakini masyarakat Nusantara sebelum Islam datang. (Pixabay/ truthseeker08.)
Ilustrasi - Agama yang diyakini masyarakat Nusantara sebelum Islam datang. (Pixabay/ truthseeker08.)

Baca Juga: Siapakah Sunan Bayat? Mengenal Sosok Mantan Bupati Semarang yang Gila Harta hingga Jadi Ulama Paling Sabar Penyebar Islam di Tanah Jawa

Istilah-istilah seperti 'Taya' dan 'Tol' yang berarti kekuatan adikodrati telah lama dikenal dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu, dan Bali.

Dengan demikian, tidak mengherankan jika Islam dengan mudah berkembang dan menjadi agama mayoritas di Nusantara.

Kesamaan dalam prinsip ketuhanan antara ajaran Kapitayan dan Islam membuat transisi kepercayaan ini berjalan alami, memperkuat keyakinan bahwa Islam memang membawa rahmat bagi seluruh alam, termasuk Nusantara.

Kemudian Ustadz Zainal Abidin dalam kanal YouTube Ghoinfa TV juga memberikan pendapatnya tentang agama yang satu ini.

Baca Juga: Siapa Ki Juru Mudi? Menelisik Kisah Sosok Muslim yang Dimakamkan dalam Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Ia menjelaskan bahwa dalam kepercayaan Kapitayan, sesajen dianggap sebagai cara untuk menyenangkan Tuhan.

Sesajen tersebut biasanya berupa tumpeng dan berbagai makanan lain yang disediakan dalam upacara-upacara tertentu.

Masyarakat percaya bahwa sesajen dapat menghubungkan mereka dengan Tuhan dan mendapatkan berkah.

Raja dan ratu dalam kepercayaan Kapitayan dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Apa pun yang dikatakan raja atau ratu dianggap sebagai suara Tuhan.

Baca Juga: Dakwah Wali Songo Tergantung pada 4 Tokoh Wayang Kulit ini, Gambaran Para Nabi dan Rasul yang Sering Diremehkan

Gelar seperti "Ratu" dan "Datu" diberikan kepada orang-orang yang dianggap memiliki kedekatan dengan Tuhan.

Bukti-bukti keberadaan Kapitayan dapat dilihat di berbagai peninggalan budaya Nusantara.

Misalnya, banyak kuburan kuno yang di sampingnya terdapat kolam kecil atau "Setu" yang diyakini sebagai tempat minum roh leluhur.

Selain itu, bentuk-bentuk bangunan seperti candi dan masjid di Jawa sering kali mencerminkan simbol-simbol Kapitayan.

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X