Dikutip SketsaNusantara.id dari Buku Wali Berandal Tanah Jawa dari judul asli 'Bandit Saints of Java yang ditulis oleh George Quinn cetakan tahun 2019, tempat keramat itu adalah makam Kyai Bondho dan istrinya.
Baca Juga: Mengulik Kisah Makam Ki Juru Mudi, Sosok Muslim yang Dimakamkan di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
Pohon Ketos yang besar dan memiliki kanopi rimbun dan batang kekar itu merupakan jelmaan Kyai Bondho dan Nyai Bondho.
Ada pula yang menyebutkan kalau makam di bukit itu merupakan tempat yang dihuni oleh Kyai Bondho dan Nyai Bondho yang tak bisa dijelaskan wujudnya.
Secara kisah masyarakat lokal Dusun Bero, Klaten, kedua pasangan suami istri itu merupakan abdi dari Raja Kerajaan Kediri, Jayabaya.
Disebutkan dalam Buku Wali Berandal Jawa, Kyai Bondho dan Nyai Bondho dulunya abdi Raja Jayabaya, namun ada yang menyebutkan keduanya keturunan atau cucu Jayabaya.
Saat raja Jayabaya moksa dan menghilang ke langit, Kyai Bondho dan Nyai Bondho lari ke arah barat menuju ke Klaten.
Hingga di sana keduanya melakukan tapadan berpuasa, namun keduanya akhirnya sirna dari muka bumi lantaran Kyai Bondho dan Nyai Bondho putus 1 kali tapa dan puasa.
Tempat bertapa Kyai Bondho dan Nyai Bondho itulah ditumbuhi Pohon Ketos dan 800 tahun setelah kejadian itu, Kyai Bondho dan Nyai Bondho bersemayam di pohon tersebut.
Tak heran jika masyarakat Dusun Bero menganggap pohon Ketos itu keramat dari ratusan tahun yang lalu hingga sekrang.
Masyarakat setempat menganggap bahwa roh-roh keturunan Kyai dan Nyai Bondho lahir dan tinggal di setiap rumah di Dusun Bero.
Baca Juga: Mulai Langka, Begini Cara Buat Kupat Ketheg, Kuliner Warisan Sunan Giri yang Cuma Ada di Gresik
Tujuannya baik, masyarakat percaya bahwa mereka tinggal serumah dengan warga untuk melindungi.