Akhirnya, gerakan ini digagalkan ketika pasukan Kesultanan, dengan bantuan tentara Belanda, berhasil menangkap para pemimpin pemberontakan.
Meskipun demikian, Pangeran Suryaningalogo dan Ratu Kedaton berhasil melarikan diri, tetapi akhirnya ditangkap oleh pasukan Belanda dan dihukum buang ke Manado.
Ratu Kencono, yang juga dituduh terlibat dalam rencana kudeta, berhasil diasingkan dari Keraton setelah diadili.
Setelah peristiwa ini, situasi di Keraton Yogyakarta menjadi lebih stabil, dan perhatian Sultan Hamengkubuwono VII beralih pada Pangeran Ahadiyat, yang kemudian diangkat sebagai Pangeran Adipati Anom Hamengkunegoro pada tahun 1883.
Keputusan ini tidak hanya menciptakan kekecewaan baru bagi Ratu Kedaton dan Ratu Kencono, tetapi juga menegaskan kembali kewibawaan Sultan dalam menentukan masa depan Kesultanan.
Namun, stabilitas itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 1893, Pangeran Ahadiyat tiba-tiba meninggal dunia, meninggalkan posisi putra mahkota kosong untuk kedua kalinya.
Hal ini memunculkan kembali persaingan politik di Keraton Yogyakarta, dengan Ratu Kencono dan Pangeran Mangku Kusumo yang kembali mencoba untuk mempengaruhi penunjukan pewaris tahta.
Sultan Hamengkubuwono VII akhirnya memilih Raden Mas Pratisto, yang dikenal sebagai Pangeran Adipati Juminah, dari permaisuri Ratu Hemas, untuk mengisi posisi putra mahkota pada akhir tahun 1893.
Meskipun ada ketegangan dengan pemerintah kolonial Belanda terkait penandatanganan kontrak politik, Pangeran Juminah dilantik sebagai putra mahkota dalam sebuah upacara resmi pada 9 November 1893.
Kestabilan sementara tercapai dengan pelantikannya, tetapi hubungan dengan Belanda tetap tegang karena Pangeran Juminah menolak untuk menandatangani kontrak politik yang memberikan kekuasaan yang lebih besar kepada kolonial.
Kesulitan semakin meningkat ketika Pangeran Juminah terlibat dalam kegiatan spiritual dan meditasi yang sering dikunjunginya, seperti di kompleks Astana Pajimatan di Imogiri dan Pantai Selatan.
Tindakan ini memicu kecurigaan dan ketegangan dengan pemerintah kolonial, yang menganggap perilaku ini sebagai tanda-tanda potensi pemberontakan.