SketsaNusantara.id - Pada tanggal 13 Agustus 1877, Gusti Raden Mas Murtedjo, putra Sultan Hamengkubuwono VI, naik takhta sebagai Sultan Hamengkubuwono VII Kesultanan Yogyakarta.
Kepemimpinannya dimulai setelah memperkuat posisinya dan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda melalui serangkaian perjanjian politik yang penting.
Pergantian kekuasaan ini tidak terjadi tanpa kontroversi. Sultan Hamengkubuwono VII dihadapkan pada tugas berat untuk menentukan pewaris tahta.
SketsaNusantara.id melansir dari kanal YouTube Bimo K.A., masalah suksesi menjadi pusat perhatian karena Sultan Hamengkubuwono VII memiliki dua permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu Sultan dan Gusti Kanjeng Ratu Mas.
Namun, penunjukan putra mahkota tidaklah mudah.
Pada saat itu, Ratu Kedaton, salah satu istri mendiang Sultan Hamengkubuwono V, bersama putranya Raden Mas Timur Muhammad, yang dikenal sebagai Pangeran Suryaningalogo, telah lama menginginkan tahta.
Ambisi mereka semakin diperkuat dengan kehadiran Ratu Kencono, permaisuri lain dari Sultan yang tidak memiliki putra laki-laki.
Kekhawatiran Ratu Kencono tentang masa depan kedudukannya semakin tajam setelah kelahiran beberapa putra dari permaisuri kedua Sultan.
Baca Juga: Candi di Prigen Ini Merupakan Perpaduan Hindu-Buddha, Tempat Pendharmaan Salah Satu Raja Singasari
Situasi semakin rumit ketika pemerintah Hindia Belanda, yang berkuasa atas wilayah ini, mulai menekan Sultan Hamengkubuwono VII untuk menetapkan seorang putra mahkota.
Pada Maret 1881, Sultan Hamengkubuwono VII diminta untuk menunjuk calon pewaris tahta.
Ratu Kedaton melihat peluang untuk mencapai tujuan jangka panjangnya dengan mencoba berkoalisi dengan Ratu Kencono, yang mengakibatkan pernikahan Pangeran Suryaningalogo dengan salah satu putri Ratu Kencono.
Namun, upaya mereka gagal karena ketegasan Patih Danurzolima, yang segera melaporkan rencana ini kepada Residen Funback.
Artikel Terkait
Hewan Santapan Khusus Para Raja Jawa Kuno Ini Dikebiri Sebelum Disantap, Salah Satunya Hewan Bermoncong Ini
Diplomasi Cerdas Haji Agus Salim, Memperkenalkan Indonesia ke Raja dan Ratu Inggris Hanya Lewat Kretek
Misteri Kuburan di Tangga Makam Raja Mataram di Imogiri Bantul, Pengkhianat Sultan Agung atau Jan Pieterszoon Coen?
Bucin Parah! Raja Mataram Ini Nekat Rebut Istri Orang hingga Lupa Pekerjaan, Kisah Tragis Selir Amangkurat I
Dicap Anak Durhaka, Benarkah Raja Kerajaan Demak, Raden Patah, yang Menyerang Majapahit, Kerajaan Ayahnya?
Punya Karomah Mengubah Pena Menjadi Keris, Sunan ini Menyandang Gelar Guru Raja-Raja Nusantara hingga Dijuluki Paus-nya Jawa
Kena Prank Mertua, Kisah Ki Ageng Mangir, Keturunan Raja Majapahit yang Dibunuh Saudara Sendiri
Gayatri Rajapatni, Si Bungsu Terkasih Putri Raja Kertanegara, Simbol Kekuatan Krusial Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit