SketsaNusantara.id - Bulan Suro menjadi salah satu periode yang paling dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa.
Nama bulan ini sering dikaitkan dengan malam 1 Suro, berbagai ritual budaya, hingga sejumlah tradisi yang masih bertahan sampai sekarang.
Meski demikian, tidak semua orang memahami arti sebenarnya dari kata Suro. Banyak masyarakat mengenal berbagai tradisi yang menyertainya, tetapi belum mengetahui asal-usul nama tersebut.
Padahal, kata Suro memiliki hubungan erat dengan sejarah perkembangan budaya Jawa dan penyebaran Islam di Nusantara. Nama ini menjadi bagian penting dalam sistem penanggalan Jawa yang masih digunakan hingga kini.
Apa Arti Kata Suro?
Kata Suro berasal dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab. Istilah tersebut merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharam dalam kalender Hijriah.
Dalam perkembangannya, pelafalan Asyura mengalami penyesuaian di lingkungan masyarakat Jawa. Seiring waktu, kata tersebut kemudian dikenal luas sebagai Suro.
Karena itu, bulan Suro dalam kalender Jawa memiliki keterkaitan dengan bulan Muharam dalam kalender Islam. Keduanya sama-sama menandai awal tahun dalam sistem penanggalan masing-masing.
Hubungan Suro dengan Kalender Jawa
Kalender Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil perpaduan unsur budaya Jawa dan Islam. Sistem tersebut diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram pada abad ke-17.
Sultan Agung melakukan penyesuaian terhadap sistem penanggalan yang sebelumnya digunakan masyarakat Jawa. Penanggalan baru tetap mempertahankan unsur budaya lokal, tetapi menggunakan perhitungan bulan seperti kalender Hijriah.
Dalam sistem tersebut, bulan Suro ditempatkan sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa. Posisinya sama dengan Muharam yang menjadi bulan pertama dalam kalender Islam.