jelajah

Jadi Raja saat Masih Berusia 3 Tahun, Begini Cara Sri Sultan Hamengku Buwono V Menyelamatkan Yogyakarta Tanpa Pertumpahan Darah

Sabtu, 8 November 2025 | 17:00 WIB
Sri Sultan Hamengku Buwono V. (kratonjogja.id)

SketsaNusantara.id - Lahir pada 20 Januari 1821, Gusti Raden Mas Gatot Menol naik takhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono V saat baru berusia 3 tahun.

Putra Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan GKR Kencono itu tumbuh dalam lingkungan istana yang sarat tanggung jawab dan harapan besar.

Karakternya dikenal lembut, jauh dari kekerasan, namun tetap memegang teguh nilai tanggung jawab seorang pemimpin.

Baca Juga: Bukan Sekadar Olahraga Biasa, Inilah Jemparingan, Panahan Asli Yogyakarta yang Menanamkan Watak Ksatria dan Bentuk Refleksi Diri

Dilansir SketsaNusantara.id dari kratonjogja.id, pemerintahan saat itu dijalankan oleh dewan perwakian karena mempertimbangkan usianya yang msaih sangat muda.

Dewan ini terdiri atas Ratu Ageng, Ratu Kencono, Pangeran Mangkubumi, dan Pangeran Diponegoro.

Meski demikian, pelaksanaan pemerintahan sehari-hari tetap diawasi oleh Patih Danurejo III di bawah pengawasan residen Belanda.

Baca Juga: Raja Cilik Yogyakarta yang Dibesarkan Pangeran Diponegoro dan Wafat di Usia Muda

Setelah berusia 16 tahun, barulah Sultan Hamengku Buwono V mengambil kendali penuh atas pemerintahan, tepatnya pada tahun 1836.

Perang Jawa dan Tantangan Kepemimpinan

Masa kecil hingga awal kepemimpinan Sultan bertepatan dengan pecahnya Perang Jawa (1825–1830), perlawanan besar yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Perang ini dipicu oleh berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Tanah-tanah keraton banyak disewakan kepada bangsa Eropa, pajak meningkat, dan rakyat menderita akibat wabah serta gagal panen.

Baca Juga: Raja Yogyakarta yang Tak Pernah Tunduk pada Kolonialisme Barat, Inilah Riwayat Sri Sultan Hamengku Buwono II

Selain itu, masuknya adat dan gaya hidup Eropa ke lingkungan keraton menimbulkan ketegangan sosial.

Halaman:

Tags

Terkini