SketsaNusantara.id - Lahir pada 20 Januari 1821, Gusti Raden Mas Gatot Menol naik takhta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono V saat baru berusia 3 tahun.
Putra Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan GKR Kencono itu tumbuh dalam lingkungan istana yang sarat tanggung jawab dan harapan besar.
Karakternya dikenal lembut, jauh dari kekerasan, namun tetap memegang teguh nilai tanggung jawab seorang pemimpin.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kratonjogja.id, pemerintahan saat itu dijalankan oleh dewan perwakian karena mempertimbangkan usianya yang msaih sangat muda.
Dewan ini terdiri atas Ratu Ageng, Ratu Kencono, Pangeran Mangkubumi, dan Pangeran Diponegoro.
Meski demikian, pelaksanaan pemerintahan sehari-hari tetap diawasi oleh Patih Danurejo III di bawah pengawasan residen Belanda.
Baca Juga: Raja Cilik Yogyakarta yang Dibesarkan Pangeran Diponegoro dan Wafat di Usia Muda
Setelah berusia 16 tahun, barulah Sultan Hamengku Buwono V mengambil kendali penuh atas pemerintahan, tepatnya pada tahun 1836.
Perang Jawa dan Tantangan Kepemimpinan
Masa kecil hingga awal kepemimpinan Sultan bertepatan dengan pecahnya Perang Jawa (1825–1830), perlawanan besar yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro terhadap pemerintahan kolonial Belanda.
Perang ini dipicu oleh berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Tanah-tanah keraton banyak disewakan kepada bangsa Eropa, pajak meningkat, dan rakyat menderita akibat wabah serta gagal panen.
Selain itu, masuknya adat dan gaya hidup Eropa ke lingkungan keraton menimbulkan ketegangan sosial.