Memiliki nama dari kata “Jemparing” yang berarti anak panah, olahraga tradisional ini mengandung filosofi yang dalam.
Filosofi yang terkandung dalam olahraga ini adalah “pamenthanging gandewa pamanthening cipta”.
Istilah tersebut mengandung arti “membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik”.
Makna dari filosofi ini menekankan bahwa manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada cita-citanya agar dapat tercapai.
Keunikan Teknik Jemparingan
Dikutip SketsaNusantara.id dari laman resmi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, keunikan dari Jemparingan adalah teknik membidik yang tidak menggunakan mata.
Saat membidik, busur atau Gandewa diposisikan di depan perut dan pemanah mengandalkan perasaan untuk mencapai sasaran yang disebut dengan wong-wongan atau bandulan.
Selain itu keunikan lainnya terletak pada posisi duduk yang dilakukan oleh pemanah saat membidik sasaran.
Posisi duduk tersebut memiliki makna filosofi sebagai bentuk kesederhanaan dan keseimbangan.
Sehingga Jemparingan bukan hanya sekadar olahraga namun juga sebagai bentuk meditasi dan refleksi diri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!