2. Perubahan dari Bentuk-Bentuk Sebelumnya
Berdasarkan sejarah, roti buaya adalah perubahan dari simbol buaya yang telah ada sebelumnya dengan berbagai bahan pembuatan.
Pada abad ke-17 masyarakat Betawi menggunakan simbol buaya dalam pernikahan adat dengan bahan-bahan alami seperti anyaman batang kelapa atau kayu.
Baca Juga: Perjalanan Batik, Sejarah dari Simbol Kekuasaan Majapahit hingga Warisan Dunia UNESCO
Pada awal abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 simbol buaya yang digunakan mulai berkembang menjadi roti dengan bentuk buaya.
3. Simbol Kesetiaan dan Keteguhan Rumah Tangga
Masyarakat Betawi meyakini bahwa simbol buaya memiliki nilai-nilai kesetiaan. Nilai tersebut tidak terlepas dari sifat alami buaya yang diyakini hanya memiliki satu pasangan selama hidupnya.
Sehingga keberadaan roti buaya dalam pernikahan adat Betawi menunjukkan kesetiaan yang dimiliki oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.
Selain bermakna kesetiaan, roti buaya juga bermakna keteguhan yang tercermin dalam komitmen, kestabilan, serta keseriusan dalam menjalin hubungan dan membangun rumah tangga.
4. Dibuat Berpasangan
Roti buaya pada umumnya disajikan secara berpasangan untuk mewakili pengantin laki-laki dan pengantin perempuan.
Sepasang roti buaya tersebut menjadi simbol antara seorang laki-laki dan perempuan yang akan memulai kehidupan sebagai sebuah keluarga.
Baca Juga: Ternyata Ada 2 Jenis, Inilah 7 Fakta Qasidah yang Buktikan Syair Islami Tak Pernah Lekang Zaman
Terdapat juga roti buaya yang berukuran lebih kecil sebagai simbol bahwa mempelai perempuan siap melepas masa lajangnya dan memberikan keturunan untuk mempelai laki-laki.