5. Tidak untuk Dimakan
Pada awalnya dalam pernikahan adat Suku Betawi, roti buaya disajikan dengan maksud sebagai simbol kestabilan pernikahan dan tidak untuk dikonsumsi oleh tamu undangan.
Sehingga roti buaya seringkali bertekstur keras dan tahan lama tanpa ada campuran bahan-bahan apapun.
Namun seiring perkembangannya, roti buaya kini mengalami perubahan dengan tekstur lembut dan lezat untuk dikonsumsi.
Meski mengalami perubahan, nilai-nilai yang terkandung dalam roti buaya tidak bergeser dan tetap dilestarikan oleh masyarakat Suku Betawi hingga kini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Jejak Prajurit Legendaris Kraton Yogyakarta yang Tak Terkalahkan dan Kini Jadi Nama Kampung Wisata, Punya Senjata Khas Trisula dan Klebet Hitam
4 Fakta menarik Monumen Pancasila Sakti di Jakarta, Dibangun Soeharto hingga Jadi Pengingat Peristiwa G30S PKI
5 Fakta Sejarah Sumur Maut Lubang Buaya, Tempat Gugurnya Para Pahlawan Revolusi dan Saksi Tragedi G30S PKI
6 Kudapan Khas Indonesia Timur yang Menggugah Selera, 4 di Antaranya Berasal dari Papua dan Berbahan Dasar Sagu
2 Penemuan Unik dari Candi Peninggalan Majapahit di Pasuruan, Simbol Sakral Warisan Kerajaan Kuno yang Tersembunyi