jelajah

Dulu Makanan di Masa Sulit, Kini Jadi Camilan Legendaris di Yogyakarta yang Bertahan 40 Tahun sejak Masa Kolonial

Senin, 6 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Camilan legendaris dari masa Kolonial. (Jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Di masa penjajahan Jepang, warga Gunungkidul Yogyakarta menghadapi masa-masa sulit ketika beras menjadi barang langka.

Untuk bertahan hidup, mereka beralih pada bahan pangan lokal yang mudah didapat dan disiapkan.

Salah satunya adalah thiwul, makanan berbahan dasar singkong yang hingga kini tetap menjadi ikon kuliner khas daerah tersebut.

Baca Juga: Usaha Camilan Lawas Ini Bangkit Bersama BRI: Slondok Sleman Kini Jadi Andalan Oleh-Oleh Wisatawan

Dilaporkan SketsaNusantara.id  dari Jogjaprov.go.id, thiwul digunakan sebagai makanan utama oleh masyarakat Gunungkidul pada masa kolonial Jepang karena beras hampir tidak dapat diakses.

Makanan ini dikenal mampu memberi rasa kenyang hanya dengan porsi kecil. Saat dimakan, thiwul akan mengembang di dalam perut, membuat satu gigitan saja sudah cukup mengganjal lapar.

Dalam situasi sulit masa penjajahan, thiwul menjadi penyelamat. Bahannya sederhana, murah, dan tersedia di sekitar rumah.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Khas Pontianak yang Wajib Dicoba, Ada Camilan Segar Pengusir Panasnya Matahari Khatulistiwa Loh!

Singkong dikeringkan menjadi gaplek, lalu digiling menjadi butiran kasar. Setelah dikukus, thiwul biasanya disajikan dengan parutan kelapa atau gula jawa.

Sifatnya yang mengenyangkan menjadikannya pengganti nasi yang efektif di tengah keterbatasan bahan pangan.

Kini, fungsi thiwul sudah berubah. Makanan yang dulunya dianggap sebagai simbol keterpaksaan kini menjadi camilan tradisional yang bernilai sejarah dan nostalgia.

Warga Gunungkidul tak lagi menjadikannya sebagai makanan pokok, melainkan hidangan khas yang disuguhkan untuk tamu atau wisatawan.

Salah satu sosok yang berperan besar menjaga kuliner ini adalah Tumirah, atau akrab disapa Yu Tum.

Ia dikenal luas sebagai penjual thiwul legendaris di Wonosari. Yu Tum mulai berjualan sejak tahun 1985, berkeliling dari satu desa ke desa lain. Berbekal ketekunan dan resep turun-temurun, usahanya perlahan berkembang.

Halaman:

Tags

Terkini