SketsaNusantara.id - Di masa ketika permainan digital belum mengambil alih dunia anak-anak, benda sederhana seperti potongan kertas bergambar bisa menghadirkan keceriaan luar biasa.
Salah satu yang paling ikonik bagi anak-anak era 80-an hingga 90-an adalah umbul gambar wayang, permainan yang tak hanya seru, tapi diam-diam sarat edukasi budaya.
Umbul gambar wayang biasanya dijual murah dalam bentuk lembaran kertas bergambar tokoh-tokoh pewayangan.
Isinya bervariasi, dari para dewa, ksatria, punakawan, raksasa (buta), hingga tokoh binatang mitologi dan bentuk gunungan.
Anak-anak biasanya menggunting gambar-gambar itu satu per satu, lalu memainkannya secara adu keberuntungan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @wayangheritage, permainan ini dilakukan dengan cara melemparkan 2 gambar yang sedang “diadu” ke atas, kemudian membiarkannya jatuh ke lantai. Jika gambar yang kita pilih jatuh dalam posisi tengkurap alias tertutup, maka dinyatakan kalah.
Sebaliknya, jika gambar jatuh telentang dan terlihat jelas sosoknya, maka itulah pemenangnya. Sederhana, tapi bisa mengundang sorakan seluruh anak sekampung.
Mainan Seru dan Edukatif
Meski terkesan hanya permainan iseng, umbul gambar wayang punya nilai budaya yang sangat penting. Anak-anak tanpa sadar mengenal tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan yang biasanya hanya mereka lihat di layar TV atau panggung wayang kulit yang digelar tengah malam.
Nama-nama seperti Arjuna, Bima, Semar, Petruk, atau Buto Telinga menjadi akrab di kepala, bukan karena diajarkan guru, tapi karena sering “menang” saat diadu.
Tak jarang, anak-anak punya jagoan favorit berdasarkan tingkat keberuntungan gambar tersebut. Jika satu tokoh sering menang, ia bisa dianggap “sakti”, dan jadi idola.