SketsaNusantara.id - Dalam setiap pagelaran wayang kulit, nama Cangik dan Limbuk hampir selalu muncul.
Mereka hadir di adegan keputren, yakni wilayah eksklusif para perempuan istana.
Namun sayangnya, 2 tokoh ini kerap disalahpahami hanya sebagai pelayan atau babu lucu semata. Padahal peran mereka jauh lebih besar dan dalam dari itu.
Cangik dan Limbuk adalah punakawan wanita. Seperti halnya Semar dan para punakawan bagi ksatria, mereka adalah sahabat, bukan sekadar pembantu.
Mereka setia, dekat secara emosional, bahkan menjadi tempat curhat para permaisuri dan putri. Barangkali di zaman modern, mereka layak disebut sebagai asisten pribadi elite.
Jika Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong adalah panakawan untuk para ksatria, maka Cangik dan Limbuk adalah punakawan khusus bagi para tokoh wanita seperti putri atau permaisuri raja.
Dilansir SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Ari Ponocowolo yang diunggah pada 6 Februari 2022, Cangik digambarkan sebagai wanita tua jelek dan kurus, sementara Limbuk tampak tambun dan naif. Namun sejatinya, gambaran itu adalah simbolisasi.
Kurusnya Cangik mencerminkan kesederhanaan dan keikhlasan.
Sedangkan tubuh tambun Limbuk menunjukkan kemudaan dan masih kuatnya hasrat duniawi sebagai fase awal dalam pengabdian.
Cangik digambarkan sebagai sosok dewasa, berpengalaman, dan penuh nasihat.
Ia adalah tempat sang junjungan mencurahkan isi hati. Mereka bukan parekan atau babu. Mereka adalah rewang, penolong, sahabat, dan penjaga rahasia istana.