Limbuk adalah anak sekaligus penerus Cangik. Ia menjalani fase magang dalam kesetiaan dan kedewasaan.
Lambat laun, jika ia bertahan dalam pengabdian tanpa pamrih, tubuh dan jiwanya akan "mengurus" seperti ibunya, menggambarkan kedewasaan spiritual.
Dalam budaya Jawa, posisi Cangik dan Limbuk sangat dekat dengan sang junjungan. Mereka tinggal bersama, makan dari dapur yang sama, bahkan menjaga anak-anak sang permaisuri.
Di masa kini, posisi ini bisa disejajarkan dengan "asisten pribadi" atau orang dalam lingkaran ring satu, posisi kepercayaan tinggi dalam pemerintahan atau kerajaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Bukan Sembarang Gua, Pesona Alam Pati Tempat Semar Bersemedi Ini Saksi Sunan Gresik Islamkan Majapahit?
6 Fakta Sukolilo Pati dalam Sejarah Nusantara: Dulu Genangan Air Selat Muria hingga Tempat Semar Bersemedi
Tokoh Wayang yang Hidup di Ramayana dan Baratayudha, Pembantai Kasta Ksatria hingga Diangkat Jadi Dewa Perang di Kahyangan
Lakon Wayang Sunan Kalijaga yang Paling Diminati saat Dakwah Islam di Tanah Jawa, Sarat Makna dan Pesan Spiritual
Mirip Syekh Siti Jenar, Tokoh Wayang ini Asli Jawa dan Hanya di Yogyakarta: Sakti Tanpa Tanding dan Menolak Kehidupan Duniawi
9 Warisan Wali Songo yang Membuat Wayang Kulit Makin Canggih sebagai Alat Dakwah Islam