SketsaNusantara.id - Melihat harga buku yang kian naik dan tak kunjung turun, berburu buku bekas menjadi salah satu solusi bagi para pecinta literasi untuk terus membaca tanpa terhalang kendala ekonomi.
Namun, toko-toko seperti itu sudah cukup jarang ditemukan di zaman ini. Kebanyakan kalah saing oleh arus perputaran zaman yang deras maupun toko-toko besar modern.
Sebab itulah, kios buku bekas Busri di Solo, dianggap sebagai hidden gem bagi masyarakat dan pegiat literasi di daerah tersebut.
Toko buku Busri dikenal juga dengan nama Mburi Sriwedari atau di belakang Sriwedari karena lokasinya yang berada di belakang taman yang dibangun Paku Buwono X itu.
Meskipun toko buku Busri terdengar seperti satu kesatuan, toko ini sebenarnya terdiri dari banyak lapak yang berjejer di sepanjang jalan. Jadi, penjualnya tidak hanya seorang saja.
Mungkin mendengar kata “buku bekas”, yang terlintas di kepala kebanyakan orang adalah buku-buku tua nan usang yang judulnya tidak populer saat ini.
Baca Juga: Taman Siswa Warisan Ki Hadjar Dewantara Sudah Jadi Sekolah Revolusioner sejak Zaman Kolonial Belanda
Namun jangan salah! Toko Busri menjual beraneka ragam buku dari berbagai genre dan jenis, serta untuk berbagai usia.
Kondisi bukunya pun tidak semua buruk. Meskipun banyak yang sudah kusam dan sobek, sebagian besar buku lain masih terlihat rapi dan baru. Ada juga yang masih dibungkus oleh plastik.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Instagram @solonyaman, lapak-lapak ini biasanya memang selalu penuh ketika tahun ajaran baru.
Para siswa menyerbu toko untuk memenuhi kebutuhan sekolah mereka, apa lagi karena buku ini menyimpan bahan pelajaran dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.
Namun seperti yang sudah disebut, kamu juga bisa menemukan majalah, cerpen, novel, hingga komik bersusun-susun di atas meja maupun di dalam toko.