SketsaNusantara.com - Saat mengenang sosok Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, obrolan tentang warisan beliau tentu tidak akan ketinggalan.
Salah satunya adalah Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1992.
Taman Siswa merupakan salah satu bentuk kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam membangkitkan semangat pendidikan untuk kaum pribumi pada masa kolonial Belanda.
Baca Juga: Pramono Anung Tebus 371 Ijazah Siswa, Wujud Komitmen Pendidikan yang Inklusif
Pada masa itu, kebanyakan rakyat pribumi di Indonesia belum memiliki hak edukasi yang serupa dengan kaum bangsawan dan penjajah karena sistem diskriminatif.
Alasan itulah yang menjadi titik awal Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa.
Taman Siswa Merupakan Bentuk Revolusi
Pada awal abad ke-20, sekolah-sekolah yang didirikan oleh penjajah Belanda dibagi menjadi dua jenis. Satu untuk bangsa Eropa, Timur Asing, dan bangsawan. Satu lagi untuk anak-anak pribumi.
Kedua kelas ini diajarkan materi yang berbeda sesuai dengan kepentingan penjajah pada masa itu.
Di saat anak-anak “kelas atas” menerima ilmu sosial, matematika, dan pelajaran bahasa asing, rakyat jelata pribumi disiapkan untuk jadi pekerja kasar, teknis, administrasi, hingga petani di bawah sistem tanam paksa Belanda. Mereka hanya belajar aritmatika dasar dan bahasa daerah.
Ketidakadilan itu menjadi pelatuk bagi tokoh-tokoh penting untuk memulai berbagai gerakan nasionalisme dan membangun sekolah-sekolah yang menanamkan jiwa kemerdekaan serta semangat pendidikan, termasuk Taman Siswa.