2. Gagal Sekolah ke Belanda
Kemampuannya berbahasa Belanda membuat Kartini memiliki sahabat pena dari kalangan bangsawan Belanda. Hal ini membuka akses baginya untuk menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan, termasuk pihak pemerintahan kolonial.
Pada usia 20 tahun, Kartini pernah mengajukan permohonan beasiswa kepada Pemerintah Belanda agar bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Permohonannya disetujui. Namun, Kartini tak bisa melanjutkan pendidikannya ke Belanda karena sudah menikah sehingga beasiswa itu pun diberikan kepada orang lain.
3. Mendirikan Sekolah Khusus Perempuan
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta, diketahui RA Kartini pernah mendirikan sekolah keputrian atau sekolah khusus untuk perempuan.
Sekolah Kartini pertama kali didirikan pada tahun 1913 di Semarang, Jawa Tengah. Awalnya, sekolah ini hanya diisi putri-putri bangsawan dari kalangan menengah ke atas.
Namun, seiring waktu sekolah ini dapat diakses untuk semua kalangan sehingga semua perempuan dari lapisan masyarakat menengah ke bawah pun punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan di Sekolah Kartini.
4. Menerapkan Gaya Hidup Vegetarian
Siapa sangka, semasa hidupnya RA Kartini ternyata adalah seorang vegetarian. Fakta ini terungkap dari salah satu surat tulis tangannya yang dimuat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kartini mengaku telah berhenti mengonsumsi daging sejak usia 14 tahun dan memilih hanya makan sayur-sayuran. Meski lahir dan dibesarkan dalam keluarga Muslim, ia mengadopsi gaya hidup yang disebutnya sebagai "anak Buddha".
Dalam suratnya, Kartini menyebut bahwa vegetarian ini merupakan bentuk doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi sekaligus sebagai bentuk kasih sayang terhadap makhluk hidup.