Sejumlah barang dalam kamar tersebut seperti ranjang dan meja belajar yang dipakai Kartini remaja juga masih tersimpan dan terawat dengan baik.
Kamar ini pula yang menjadi saksi kerindungan Kartini terhadap ibu kandungnya, M.A Ngasirah.
Seperti yang diketahui, meski sang ibu adalah istri pertama ayahnya, namun Ngasirah bukanlah istri utama Ario Sosroningrat.
Karena aturan Belanda, Sosroningrat harus menikahi keturunan bangsawan untuk menjadi bupati.
Ia lalu menikahi Raden Ajeng Woejan yang merupakan keturunan Raja Madura sehingga sang ibu, Ngasirah harus ‘turun’ menjadi selir.
Sebagai selir, Ngasirah tidak berhak tinggal di rumah utama, sehingga ibu kandung RA Kartini ini harus tinggal di bagian belakang pendapa yang dikhususnya untuk abdi dalem.
Pada masa pingitan itulah, Kartini menyimpan kerinduan terhadap Ngasirah lantaran dilarang menemui ibu kandungnya itu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!