SketsaNusantara.id - Grebeg Syawal telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Tradisi ini diselenggarakan setiap tanggal 1 Syawal yang bertepatan dengan hari pertama Hari Raya Idul Fitri.
Grebeg Syawal bukan hanya sekadar perayaan, melainkan wujud syukur dan sedekah dari Keraton Yogyakarta kepada rakyatnya.
Di balik perayaannya yang meriah, Grebeg Syawal menyimpan sejarah menarik, serta filosofi mendalam yang masih relevan hingga kini.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Tradisi Grebeg dalam bahasa jawa bermakna suara angin.
Upacara Grebeg diadakan di Kraton Kasultanan Yogyakarta pertama kali diadakan oleh Sultan Hamengkubuwono I.
Tradisi ini dilaksanakan 3 kali dalam satu tahun salah satunya yakni Grebeg Syawal yang diadakan pada 1 syawal menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Awal mula sejarah Grebeg Syawal dapat ditelusuri sejak masa Kesultanan Mataram. Tradisi ini awalnya merupakan upacara keagamaan dan simbolis untuk menunjukkan kekayaan dan kemakmuran kerajaan kepada rakyat.
Setelah Kerajaan Mataram terpecah menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tradisi Grebeg tetap dilestarikan di kedua keraton tersebut, termasuk Grebeg Syawal di Yogyakarta.
Grebeg Syawal pada dasarnya adalah wujud rasa syukur Sultan dan keraton atas limpahan rahmat dan keberkahan yang telah diberikan Allah SWT selama bulan Ramadan.
Baca Juga: Jogoroto Ramai Menjelang Lebaran: Kerinduan dan Tradisi yang Tak Pernah Pudar
Perayaan ini juga menjadi momen untuk berbagi rezeki dan mempererat tali silaturahmi antara pihak keraton dengan masyarakat.