Selasa, 30 Juni 2026

Sejarah dan Makna Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran di Yogyakarta sebagai Wujud Syukur Menyambut Hari Raya Idul Fitri

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 4 April 2025 | 08:00 WIB
Potret pelaksanaan tradisi Grebeg Syawal sebagai wujud rasa syukur menyambut Hari Raya Idul Fitri di Yogyakarta (Instagram/jogjaseni)
Potret pelaksanaan tradisi Grebeg Syawal sebagai wujud rasa syukur menyambut Hari Raya Idul Fitri di Yogyakarta (Instagram/jogjaseni)

Perayaan Grebeg Syawal selalu dinanti-nantikan oleh masyarakat Yogyakarta dan juga menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Puncak acara adalah arak-arakan gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang dihias sedemikian rumpa menyerupai gunungan besar.

Gunungan ini terdiri dari berbagai jenis yqkni Gunungan Jaler (laki-laki), Gunungan Estri (perempuan) dan Gunungan Pawuhan (campuran) yang diisi hasil bumi, seperti sayuran, buah-buahan, dan makanan atau jajanan tradisional.

Baca Juga: Mudik Singkatan dari Apa? Mengenal Tradisi Pulang Kampung saat Lebaran yang Lahir pada Masa Orde Baru

Arak-arakan dimulai dari Keraton Yogyakarta menuju dua tempat utama, yaitu Masjid Gedhe Kauman dan Puro Pakualaman. Prosesi ini diiringi dengan iringan gamelan dan prajurit keraton yang mengenakan pakaian tradisional.

Masyarakat antusias berbondong-bondong menyaksikan arak-arakan ini, menciptakan suasana makin meriah.

Sesampainya di Masjid Gedhe Kauman dan Puro Pakualaman, gunungan akan didoakan kemudian isinya akan dibagikan pada masyarakat.

Masyarakat meyakini bahwa bagian dari gunungan yang didapatkan akan membawa berkah dan keberuntungan.

Setiap elemen hasil bumi yang terdapat dalam gunungan Grebeg Syawal memiliki makna filosofis yang mendalam.

Baca Juga: Marak Tradisi Tukar Uang Baru Jelang Lebaran, Bagaimana Hukumnya dalam Islam? Buya Yahya: Jika di Dalam Serah Terimanya...

Beberapa contohnya misalnya isian cabai Merah, melambangkan keberanian dan semangat, kacang panjang, menggambarkan umur panjang dan harapan akan kehidupan yang berkelanjutan.

Ada pula isi gunungan yang berupa jajanan atau makanan tradisional seperti rengginang yang bermakna sebagai simbol persatuan dan kebersamaan dalam masyarakat serta telur Bebek yang diartikan sebagai lambang kesuburan dan awal kehidupan baru.

Secara keseluruhan, gunungan melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang diharapkan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. 

Hingga kini, Grebeg Syawal tetap menjadi tradisi yang hidup dan terus dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta yang menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur untuk selalu mengucap syukur dan berbagi dengan sesama.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X