jelajah

Mengapa Lebaran Identik dengan Ketupat? Makanan Khas Hari Raya yang Dikenalkan Sunan Kalijaga Ini Ternyata Punya Filosofi dan Makna Mendalam

Rabu, 2 April 2025 | 05:00 WIB
Potret ketuoat yang identik dengan perayaan hari raya Idul Fitri, hidangan khas lebaran yang punya filosofi serta makna mendalam (Pixabay/ignartonosbg)

Muslim di Indonesia sebagian besar melaksanakan puasa setelah Hari Raya Idul Fitri dan merayakan Lebaran ketuoat sebagai hari raya yang sempurna.

Sejarawan H.J de Graaf mengungkapkan bahwa ketupat mulai menjadi simbol perayaan Islam pada masa Kerajaan Demak.

 Baca Juga: Jarang Diketahui, Kisah Putra Sunan Kalijaga Jadi Murid Syekh Siti Jenar dan Membawa 2 Anjing ke Masjid lalu Dihukum Bakar Hidup-Hidup di Demak

Sejarah ketupat berawal tradisi slametan yang dilakukan masyarakat pesisir dan agraris pada masa kerajaan Majapahit dan Pajajaran.

Ketupat digunakan dalam tradisi setelah panen yang ditujukan kepada Dewi Sri, yang diyakini sebagai dewi kemakmuran.

Tradisi ini kemudian berlanjut di kerajaan Islam seperti Demak dan Mataram dan dikenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai pendekatan untuk menyebarkan agama islam di pulau Jawa.

Baca Juga: Rahasia Bertahannya Kesultanan Yogyakarta: Warisan Piwulang Sunan Kalijaga yang Terus Dijaga

Sunan Kalijaga memanfaatkan ketupat sebagai media dakwah, mengaitkannya dengan masyarakat pesisir yang akrab dengan janur sebagai bahan pembungkus.

Ketupat memiliki filosofi yang memiliki makna mendalam. Dalam bahasa Jawa, "kupat" merupakan singkatan dari "Ngaku Lepat" yang artinya mengakui kesalahan.

Hal ini diwujudkan dalam perilaku umat muslim menyambut lebaran dengan bersalaman menyambung taki silaturahmi dan saling memaafkan.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik THR di Indonesia, Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan hingga Dicetuskan Tokoh Partai Islam

Bungkus janur kuning juga dimaknai sebagai penolak bala bagi masyarakat Jawa. Bentuk anyamannya pun melambangkan berbagai macam kesalahan manusia.

Penampakan warna putih dari ketupat yang dibelah pun mencerminkan kesucian, dan berasnya melambangkan kemakmuran.

Bukan tanpa alasan, hidangan yang disajikan dengan ketupat seperti opor ayam yang mengandung santan pun mengandung makna permohonan maaf.

 Baca Juga: Penguasa Baru Tanah Jawa Lahir dari Takdir Letusan Gunung Merapi, Kesultanan Demak hingga Jepara pun Takluk di Bawah Kerajaan ini

Halaman:

Tags

Terkini