SketsaNusantara.id- Nama Prabu Siliwangi sudah lama menjadi ikon dalam sejarah Sunda, terutama Kerajaan Pajajaran.
Namun, hingga kini, sosok Prabu Siliwangi masih memicu perdebatan.
Banyak yang meyakini bahwa Prabu Siliwangi merujuk pada Sri Baduga Maharaja, raja yang sangat dihormati.
Namun, sejumlah sejarawan berpendapat bahwa gelar tersebut tidak hanya disandang oleh satu raja.
Melansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube David Effendi, menurut Prof. Ayatrohaedi, gelar Prabu Siliwangi sebenarnya disematkan kepada delapan raja Sunda, mulai dari Niskala Wastu Kancana hingga Suryakancana, raja terakhir sebelum keruntuhan Pajajaran pada tahun 1579.
Argumen ini diperkuat oleh naskah Wangsakerta yang menyebutkan bahwa Suryakancana adalah Prabu Siliwangi VIII yang moksa, atau menghilang secara mistis.
Meski demikian, banyak masyarakat Sunda tetap percaya bahwa Prabu Siliwangi adalah gelar eksklusif bagi Sri Baduga Maharaja.
Sri Baduga Maharaja, atau yang juga dikenal sebagai Prabu Jayadewata, merupakan sosok penting yang membawa Kerajaan Sunda mencapai masa keemasannya.
Dengan kebijaksanaan dan kekuatan militernya, ia berhasil menjaga kemakmuran dan kestabilan kerajaan.
Salah satu peristiwa yang paling terkenal dalam masa kepemimpinannya adalah Perang Bubat, sebuah konflik yang melibatkan Kerajaan Majapahit dan menyebabkan gugurnya Sri Baduga bersama putrinya, Dyah Pitaloka.
Atas pengorbanannya, Sri Baduga Maharaja dianugerahi gelar "Prabu Wangi," sebuah penghormatan yang melambangkan kemuliaan dan kehormatan.
Artikel Terkait
Tidak Banyak yang Tahu, Kerajaan Paling Berpengaruh di Tanah Sunda: Bertahan sampai Beberapa Abad!
8 Raja di Kerajaan Sunda yang Memiliki Gelar Prabu Siliwangi: Salah Satunya Memimpin sampai 1 Abad?
Muncul Sekitar Tahun 1800-an, Inilah Candi Klotok Peninggalan Kerajaan Kediri untuk Bertapa
Prabu Guru Darmasiksa, Menjadi Raja dengan Masa Pemerintahan Paling Lama di Sepanjang Sejarah Kerajaan Nusantara
Sudahkah Gajah Mada Tepati Janji Palapa-nya? Ekspansi Kerajaan Majapahit, Kuasai Seluruh Wilayah Nusantara