Kamis, 4 Juni 2026

G30S PKI, Indonesia Jadi Sorotan Media-Media Asing dari Pro hingga Kontra

Photo Author
Fadillah Nuzulul Rahman, Sketsa Nusantara
- Minggu, 15 September 2024 | 21:00 WIB
 Indonesia pada 1965 jadi sorotan media asing karena peristiwa G30S PKI. (X/@Renebwae)
Indonesia pada 1965 jadi sorotan media asing karena peristiwa G30S PKI. (X/@Renebwae)

Tak hanya di Eropa, media di Asia, seperti The Manila Times di Filipina, juga memberi perhatian besar.

Pada 2 Oktober 1965, mereka menulis tajuk utama "Kudeta Terhadap Soekarno Gagal".

Baca Juga: Lama Tak Kelihatan, Amien Rais Kena Skak Mahfud MD Gara-Gara Jualan Isu PKI

Presiden Filipina saat itu, Diosdado Macapagal, bahkan mengirimkan pesan langsung kepada Soekarno yang dipublikasikan pada 8 Oktober.

Menyatakan dukungan dan kelegaan bahwa Soekarno dalam keadaan baik.

Kemudian, pada Oktober 1965, media Filipina juga melaporkan pelarangan PKI sebagai kemenangan atas kejahatan.

Baca Juga: MPR RI Cabut TAP MPRS, Nama Soekarno Bersih dari Tuduhan Orde Baru Atas Keterlibatannya dalam G30S PKI

Namun, berbeda dengan media kapitalis yang lebih fokus pada aspek-aspek politik, media di negara-negara komunis pada tahun 1967 menekankan bahwa G30S hanyalah konflik internal di Angkatan Darat dan bukan gerakan yang didalangi PKI.

Bahkan, pers Soviet dengan tegas mengutuk kemunculan Orde Baru di Indonesia.

Nugroho Notosusanto, seorang sejarawan Indonesia, mengkritik beberapa akademisi Barat seperti Dr. Justus M. van der Kroef.

Baca Juga: Benarkah Komunis Itu Jahat? Inilah Alasan di Balik Masyarakat Indonesia yang Sangat Membenci PKI

Pasalnya, ia menulis bahwa tujuan utama G30S adalah untuk menghancurkan struktur komando Angkatan Darat dan membentuk pemerintahan rakyat ala komunis.

Meski beberapa analisis dianggap masuk akal, banyak yang dirasa kurang memahami situasi sebenarnya di Indonesia.

Selain itu, berbagai tulisan dari peneliti lain seperti John O. Sutter dan John Hughes juga menjadi sorotan.

Meski dianggap menarik, banyak di antaranya yang dikritik Nugroho karena terlalu menyoroti korban-korban tanpa melihat latar belakang yang lebih mendalam.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: YouTube IT Tahfidz TV

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X