Minggu, 19 Juli 2026

Makam Ini Selalu Ramai! di Baliknya Ada Kisah Tragis Putri Raja Bali: Dibunuh Sang Ayah karena Menjadi Mualaf

Photo Author
Fadillah Nuzulul Rahman, Sketsa Nusantara
- Jumat, 6 September 2024 | 09:30 WIB
Kisah memilukan dari putri raja Bali.  (Facebook/ Indra Kuala)
Kisah memilukan dari putri raja Bali. (Facebook/ Indra Kuala)

 

SketsaNusantara.id – Di tengah suasana asri dan keramatnya Makam Raden Ayu Siti Khotidjah di kompleks pemakaman Hindu Setra Agung Badung, Denpasar, tersimpan sebuah kisah tragis yang menyayat hati.

Makam di Bali ini tidak pernah sepi dari peziarah, baik Muslim maupun Hindu, terutama menjelang Ramadan.

Mereka datang tak hanya untuk berziarah, tetapi juga mengenang kisah pilu sang putri raja yang tewas di tangan ayah kandungnya.

Baca Juga: Siapa Ida Dewa Agung Jambe? Sosok Pahlawan Nasional dari Klungkung Bali yang Gugur dalam Perang Puputan Melawan Belanda

Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Kraton Segoro Channel, Raden Ayu Siti Khotidjah, yang sebelumnya dikenal sebagai Gusti Ayu Made Rai, adalah putri cantik Raja Pemecutan, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.

Kisah hidupnya yang dramatis dan penuh liku menarik perhatian banyak orang hingga kini.

Kecantikan Gusti Ayu Made Rai tersohor di seluruh Bali, membuat banyak pangeran ingin meminangnya.

Baca Juga: Siapa yang Menemukan Pulau Bali? Pulau Dewata Ini Sudah Ada Sejak Tahun 2000 Sebelum Masehi, Namanya Diambil dari Bahasa...

Namun, takdir berkata lain. Di puncak keindahannya, ia sakit parah, terserang penyakit kuning yang sulit disembuhkan.

Berbagai pengobatan gagal, dan sang raja pun putus asa. Demi kesembuhan putrinya, Raja Pemecutan menggelar sayembara: siapa pun yang berhasil menyembuhkan putrinya, akan dihadiahi imbalan besar.

Jika penyembuhnya seorang pria, ia akan menikah dengan Gusti Ayu; jika wanita, ia akan diangkat menjadi anak raja.

Baca Juga: Inilah Candi Jawi Peninggalan Kerajaan Singasari yang Dibangun pada Abad ke-13 di Masa Pemerintahan Raja Kertanegara

Berita sayembara ini sampai ke telinga seorang ulama di Yogyakarta, yang kemudian mengutus Pangeran Cakraningrat IV dari Madura untuk membantu.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Youtube Kraton Segoro Channel

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X