SketsaNusantara.id - Sunda Wiwitan, kepercayaan kuno dari masyarakat Sunda, menyimpan kedalaman yang sering kali terabaikan.
Berakar dari tradisi Kapitayan di Jawa, kepercayaan ini menganggap Sang Hyang Kersa sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak sekadar pemujaan terhadap alam atau arwah leluhur.
Sebaliknya, Sunda Wiwitan adalah sistem kepercayaan monoteistik yang mirip dengan agama Islam, penuh dengan filosofi mendalam serta struktur sosial-budaya yang kaya.
Keberadaan Sunda Wiwitan masih terlihat di beberapa desa di Banten dan Jawa Barat, seperti Kanekes (Baduy), Kampung Naga, Ciptagelar, dan Cigugur, seperti dikutip SketsaNusantara.id dari kanal YouTube KulturAI.
Masyarakat Baduy Dalam di Kanekes menjaga tradisi ini dengan ketat, sementara di Cigugur, Kuningan, aliran Madrais, yang muncul pada abad ke-19, adalah variasi dari Sunda Wiwitan.
Kitab Sanghyang Siksakanda Ng Karesian atau Kropak 630 adalah sumber utama ajaran Sunda Wiwitan, berisi prinsip-prinsip moral dan spiritual yang telah ada sejak era kerajaan Sunda.
Kitab ini menunjukkan bahwa ajaran Sunda Wiwitan ada jauh sebelum pengaruh Hindu dan Islam masuk ke Nusantara.
Di Kampung Cikeusik, masyarakat Kanekes lebih dikenal dengan animisme yang memuja arwah nenek moyang, meski terdapat pengaruh Hindu dan Islam dalam perkembangannya.
Sementara di Bogor, khususnya di Kampung Adat Urug, Sunda Wiwitan dipandang sebagai upaya pelestarian budaya daripada sekadar agama.
Dimana yang menarik dari Sunda Wiwitan adalah kesamaan teologisnya dengan konsep tauhid dalam Islam.
Artikel Terkait
Satu Tapi Tak Sama! Inilah Perbedaan Suku Baduy Dalam dan Luar: Masih Menganut Kepercayaan Sunda Wiwitan?
Di Mana Makam Nyi Mas Gandasari? Sosok Perempuan Hebat Nan Sakti Penyiar Agama Islam di Bumi Nusantara
Siapa Bong Swi Hoo? Wali Asal Tionghoa yang Turut Menyebarkan Agama Islam, Benarkah Sunan Ampel?
Bukan Wali Songo! Ada 3 Teori Sejarah Masuknya Agama Islam ke Wilayah Nusantara, Mana yang Benar?
Jarang yang Tahu? 2 Sub Suku Batak Ini Ternyata Mayoritasnya Menganut Agama Islam