SketsaNusantara.id - Ki Ageng Jejer, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Jejer, merupakan sosok penting dalam sejarah spiritual Jawa.
Ia adalah guru dari Sinuhun Sultan Agung Hanyokrokusumo, dan dikenal sebagai pemangku ilmu kadigdayaan.
Banyak santri dari tanah Jawa berdarah kejadugan yang sering bertawassul kepadanya, mencari berkah dan ilmu.
Sebagai penerus adat Padepokan Prabu Satmata atau Madrasah Giri, Ki Ageng Jejer memiliki otoritas untuk melanjutkan dan mengembangkan tradisi serta budaya spiritual di Jawa.
Sebagaimana dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube BERBAGI TAHU, nama "Jejer" memiliki cerita menarik di baliknya.
Menurut masyarakat setempat, Ki Ageng Jejer wafat dalam keadaan berdiri tegak, atau "ngadeg ngejer."
Baca Juga: Makam Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Tidak Mewah, tapi Jadi Pusat Peziarah Masyarakat di Bantul?
Dalam tradisi pewayangan yang dimasyarakatkan oleh Sunan Kalijaga, istilah "Jejeran" merujuk pada fase pembuka cerita atau babak pertama dalam pertunjukan wayang kulit.
Istilah inilah yang melambangkan kelahiran dan permulaan kehidupan.
Ki Ageng Jejer juga dikenal dengan nama Sunan Suraprabhawa, menandakan perannya dalam menyebarkan ilmu dan ajaran agama.
Wilayah Jejeran, yang kini dipenuhi oleh pesantren dan para kiai, menunjukkan betapa pentingnya peran Ki Ageng Jejer dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada para santri.
Termasuk Sultan Agung sang Raja Jawa dari Kerajaan Mataram Islam.
Artikel Terkait
Punya Panggilan Khusus? Intip Kisah Masa Kecil Kyai Hamid Pasuruan, Ulama Kharismatik yang Hobi Menuntut Ilmu
Yuk Ziarah Religi ke Makam Kyai Hamid Pasuruan Jawa Timur, Sosok Ulama Besar Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah yang Penuh Karomah
Contoh Teladan dari Kyai Abdul Muchith Muzadi! Sosok Ulama Kharismatik, Wafatnya Sampai Menarik Lautan Manusia
Profil Kyai Ali Maksum, Terkenal Karena 4 Hal Ini: Kemampuannya Tidak Dimiliki oleh Ulama Lain
Mengenal Kyai As’ad Syamsul Arifin, Salah Satu Ulama yang Memegang Kunci Penting Pendirian Nahdlatul Ulama