Bahan dasar pembuatan blencong, yakni bisa dari bahan perunggu yang mana di bagian tengahnya memiliki lubang yang digunakan untuk menaruh minyak dan sumbu menghadap ke arah kelir.
Tempat peletakan blencong yakni dipasang dengan cara digantung atau dikaitkan di ujung ajon-ajon yang disesuaikan dengan melihat kebutuhan pencahayaan pada pergelaran.
Selain itu, tinggi pemasangan blencong biasanya sejengkal di atas kepala seorang dalang.
Seiring berkembangnya zaman, Blencong Geni digantikan oleh lampu petromax serta lampu pijar, adapun yang menggunakan lampu halogen dengan pancaran sinar yang lebih kuat.
Namun, Blencong Geni masih sering digunakan untuk pagelaran wayang yang bersifat ritual, seperti upacara ruwatan di lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta.
Baca Juga: Akan Ada Kirab Duplikat Bendera Pusaka, Inilah Susunan Upacara Bendera di IKN dengan 2 Skema
Meski telah hadir lampu-lampu modern di setiap zamannya, namun dipercaya nyala api lampu blencong punya ciri tersendiri.
Saat api lampu blencong berkolaborasi dengan kelir wayang menciptakan efek urip atau nafas hidup.
Selain itu, tiupan angin yang menggoyang-goyang api blencong membuat sosok wayang kulit terlihat semakin menjadi nyata atau hidup.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI
Artikel Terkait
Kenapa Mata Wayang Kulit seperti Arjuna Bentuknya Sipit? Ada Ajaran Islam yang Sangat Kuat terkait Hawa Nafsu
Desa Wayang Kulit di Jawa Tengah, Ada Ciri Khas dari Kulit yang Digunakan
Bukan karena Kulitnya, Warna Hitam pada Karakter Wayang Punya Makna Islami yang Kuat
Karakter Wayang Kulit Langka ini Dianggap Biang Kejahatan tapi Dipuja Para Raksasa, Pernah Dikalahkan Semar
Bak Serial Avatar, Inilah 4 Elemen Semesta dalam Wayang Kulit Warisan Sunan Kalijaga