"Merah putih dari Ba'alawi tentu saja saya tidak percaya, karena saya punya dokumen sejarah yang ditulis oleh seorang pejuang Muhammad Yamin dimana ia seorang sastrawan, pejuang, sarjana hukum juga sejarawan dan ia sudah menulis sekian puluh buku dengan sumber-sumber yang sudah dipercaya," tegasnya.
Terkait klaim beberapa pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin sebagai keturunan Ba'alawi.
"Ga ada itu, berdasarkan yang saya tahu, berdasarkan penelitian saya itu pasti bohong berdasarkan bahwa pendapat saya sebagai sejarawan yang bukan hanya membaca namun juga tahu berbagai sumber dan penelitian," tambahnya.
Anhar Gonggong juga menegaskan bahwa pahlawan-pahlawan nasional yang kita tahu saat ini merupakan orang-orang pribumi asli bukan keturunan-keturunan Yaman seperti yang disebutkan oleh Kaum Ba'alawi.
Sedangkan terkait Sultan Hamid yang disebut Ba'alawi telah merancang lambang garuda sehingga diusulkan menjadi pahlawan nasional, Anhar Gonggong menjawab dengan lugas bahwa ia adalah orang yang tak menyetujui usulan itu.
"Saya baru membuka satu halaman (dokumen) kebetulan halaman pertama yang saya buka adalah Sultan Hamid yang menandatangani dengan gembira bahwa dia dinaikkan pangkatnya dari kolonel menjadi mayor jenderal pada tahun 1947," cerita sang profesor.
"Ingat pada tahun 1947 itu kita masih dikerjain Belanda dan ia dinaikkan pangkatnya di Belanda," tambahnya.
Sebab itulah kemudian Profesor Anhar langsung menyingkirkan Sultan Hamid sebagai calon pahlawan nasional. Menurutnya sikap Sultan Hamid yang menerima kenaikan pangkat oleh Belanda disaat negara Indonesia masih terjajah merupakan sebuah penghianatan kepada bangsa dan penghianat tak boleh diangkat sebagai pahlawan nasional yang merupakan pangkat tertinggi bagi orang yang berjasa kepada negara.
Sedangkan terkait hari kemerdekaan yang didasarkan perintah Habib Kwitang seperti yang disebutkan oleh Bahar bin Smith dengan lugas Anhar juga menyebutkan itu juga bagian kebohongan.
"Bohong, Soekarno sudah memikirkan itu (kemerdekaan) selama berpuluh-puluh tahun berjuang," ujarnya.
"Sepanjang yang saya baca dan saya tahu tak pernah saya mendengar nama itu (Habib Kwitang)," ujarnya.
Artikel Terkait
Siapa Dokter Soebandi? Pahlawan Jember yang Namanya Abadi, Sahabat Letkol Sroedji yang Segera Bergelar Pahlawan Nasional
Makam Pahlawan Nasional KH. Abdul Wahab Chasbullah, Tokoh Pendiri NU, Jadi Wisata Religi di Jombang, Lokasinya di…
Siapa M Sroedji? Inilah Sosok Pahlawan Jember yang Pernah Memimpin 5000 Prajurit hingga Jadi Musuh Nomor 1 Belanda
Mengulik Kisah Usmar Ismail, Sosok Pahlawan Nasional dari Perfilman Indonesia yang Punya Kontribusi Besar pada Nahdlatul Ulama
Mengenal Korfball, Olahraga Favorit Pahlawan Jember, Letkol M Sroedji, yang Jadi Cabor di PON 2024, Buatan Belanda?