Di sana, ia disambut dengan Thomas Mattulesi atau Kapitan Pattimura bersama para bala tentaranya.
Selama berperang, gadis remaja ini hanya mengandalkan senjata tradisional berupa bambu runcing.
Namun ketika senjata itu rusak, maka ia menggantinya dengan batu untuk menyerang kolonial Belanda.
Bahkan saat usianya masih belia, ia sudah memimpin pasukan perempuan untuk melawan Belanda.
Sayangnya, kala itu Maluku kalah di tangan Belanda. Pertumpahan darah pun terjadi di mana-mana.
Paulus Tiahahu berhasil ditangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati. Begitu juga dengan Martha Christina Tiahahu yang ditangkap Belanda untuk diseret dalam kerja paksa di Pulau Jawa.
Naas, ia pun meninggal dunia saat perjalanan ke Pulau Jawa karena kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
Martha Crhistina Tiahahu wafat 2 Januari 1818 dan resmi menjadi Pahlawan Nasional pada 1969. Hingga saat ini, terus dilakukan peringatan untuk mengenang jasa Martha Christina Tiahahu.
Salah satunya dengan dibangun sebuah monumen di perbukitan Karang Panjang hingga tampak di wilayah Ambon, Maluku.
Setiap tahunnya juga diselenggarakan Peringatan Hari Pahlawan Nasional Martha Christina Tiahahu.
Pada 2 Januari 2024, warga Ambon mengusung tema, 'Memaknai Pengabdian, Perjuangan dan Pengorbanan Para Pahlawan untuk Bangsa dan Negara.'***
Artikel Terkait
Masjid Kuno Beratap Pelepah Daun Sagu di Maluku Ini Telah Berumur 7 Abad, Konon Bisa Berpindah Secara Gaib...
Bukti Telah Menang dari Sejarah, 10 Kekuatan Pasukan Elit Indonesia Ini Mengalahkan Tentara Belanda, Kok Bisa?
Kisah Persahabatan M Sroedji dan dr. Soebandi dalam Patung di Jalan Hayam Wuruk, 2 Pahlawan Jember yang Dibantai Belanda
Mengenal Lebih Dekat Supriyadi PETA, Pahlawan Nasional yang Dikenal dengan Pemberontakannya Melawan Penjajah
Kisah Supriyadi jadi Menteri Pertahanan, Pahlawan Pemberontakan PETA Blitar yang Jejaknya Hilang Entah ke Mana
Siapa Sosok Kapitan Jonker? Mengenal Kesatria Maluku yang Gagah Namun Berakhir Tragis karena Pengkhianatan VOC