Kyai Modjo diasingkan bersama pengikutnya dan berangkat dari Batavia melalui Ambon, lalu tiba di Minahasa. Lebih tepatnya di Desa Kema, Kecamatan Kauditan daerah pantai timur Minahasa pada tahun 1829.
Ia bersama para pengikutnya diasingkan di Kaburukan, bagian selatan Kema. Lalu, dipindahkan di sebelah utara yaitu di Tasik Oki atau Tanjung Merah.
Baca Juga: Bagaimana Asal-usul Wedang Ronde? Mengenal Minuman Unik Khas Jawa yang Bisa Menghangatkan Tubuh
Belanda memiliki alasan mengapa mereka dipindah ke Tasik Oki, karena wilayah tersebut merupakan daerah berawa dan dekat dengan Gunung Klabat.
Setelah itu, mereka dipindahkan lagi ke sebelah barat Sungai Tondano. Kemudian mereka dipindah lagi ke daerah Kawak lalu ke Kampung Jawa. Mereka dipindah oleh Belanda agar tidak melarikan diri.
Saat masa perasingan tersebut, Kyai Modjo bertemu dengan para kyai yakni Teuku Madja, Tumenggung Pajang, Pati Urawan, Kyai Baduran, dan Kyai Hasan Bedari.
Kyai Modjo wafat pada Desember 1949 dan dimakamkan di Desa Wulauan, Kecamatan Tondano yang terletak di atas bukit Tondata yang berjarak kurang lebih 1 km dari Tondano, ibu kota Minahasa.***
Artikel Terkait
Menilik Lokasi Makam KH Bisri Syansuri di Jombang, Pesarean Ulama Pendiri NU Jadi Wisata Religi Selain Ziarah Wali Songo
Sesepuh dari 3 Wali Songo! Begini Kondisi Makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi, Ulama Tersohor di Kabupaten Tuban
Wisata Religi Makam Ki Ronggo Bondowoso: Ada Dua Makam Lainnya yang Tak Kalah Kental dengan Sejarah?
Makam Waliyullah di Tuban: Satukan Sejarah dan Spiritualitas, Dijamin Damai di Tengah Riuhnya Dunia
Di Mana Makam Sunan Bejagung Lor? Sosok Penyebar Islam di Tuban, Ada Sumur Wali yang Selalu Jadi Daya Tarik Pengunjung