Suatu ketika, Sunan Kalijaga menguji bupati Semarang tersebut dengan menyamar sebagai penjual rumput dan meminta Sunan Bayat untuk membeli dengan seluruh hartanya.
Namun, Sunan Bayat tak sudi menyerahkan seluruh hartanya untuk membeli sekeranjang rumput dan murka hingga mengusir Sunan Kalijaga.
Tak berputus asa, Sunan Kalijaga pun datang kembali menemui Sunan Bayat untuk menyadarkannya hingga terjadi perselisihan.
Baca Juga: Makna 2 Buto atau Raksasa di Gunungan Wayang Kulit, Penjaga Gerbang Ketauhidan
Sunan Kalijaga mengaku bisa mendatangkan emas dengan cangkul yang dibawanya. Ketika ia mencangkul sebidang tanah, atas izin Allah SWT ditemukan emas dalam jumlah besar.
Hal tersebut membuat Sunan Bayat senang. Namun, tak lama kemudian gunungan emas tersebut berubah lagi menjadi tanah kembali saat didekati Sunan Bayat.
Melalui kejadian ini, Sunan Kalijaga menyadarkan bahwa Sunan Bayat telah dibutakan oleh keserakahan duniawi padahal kekayaan tersebut sewaktu-waktu bisa hilang begitu saja karena hanya titipan dari Allah SWT.
Kejadian tersebut kemudian menyadarkan Sunan Bayat. Sang bupati menyadari kelalaiannya dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan bupati Semarang.
Jabatan bupati Semarang pun diserahkan kepada adik Sunan Bayat yakni Raden Mangkubumi. Sunan Bayat akhirnya bertekad untuk menjadi murid Sunan Kalijaga dan mengikuti sang guru untuk hijrah ke selatan tanpa membawa harta sepeser pun.
Setelah mendalami ilmu agama dengan baik, mantan bupati Semarang ini pun menetap di Bayat atau Tembayat, Klaten dan menyebarkan agama Islam ke berbagai wilayah, mulai dari Wedi, Salatiga, Sela Gringging, hingga Boyolali.
Dalam buku Wisata Ziarah karya Gagas Ulung, disebutkan cara Sunan Bayat berdakwah menyebarkan islam melalui kangsuh kaweruh saat berinterkasi dengan masyarakat.
Kangsuh kaweruh merupakan kegiatan bertukar pikiran dan pendapat dalam kebatinan dan kepercayaan. Melalui cara itulah, ajaran agama dapat diterima hingga beberapa masyarakat Jawa Tengah mulai masuk Islam secara sukarela atau tanpa paksaan.
Selain itu, dalam jurnal yang diterbitkan di laman Kementerian Agama (Kemenag) RI, disebutkan bahwa Sunan Bayat mengajarkan ilmu agama Islam di wilayah Bayat dan sekitarnya dengan mengikuti cara Sunan Kalijaga melalui pendekatan budaya masyarakat setempat seperti menyelenggarak pagelaran wayang atau memainkan alat musik tradisional Jawa.
Sunan Kalijaga kemudian mendirikan masjid di Bukit Jabalkat dan dititipkan kepada Sunan Bayat. Masjid tersebut dinamakan Masjid Gala yang berada di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, dan menjadi sarana mengajarkan agama Islam kepada masyarakat sampai sekarang.
Artikel Terkait
Asal-usul Sego Jangkrik, Kuliner Kesukaan Sunan Kudus yang Isinya Bukan Pakai Jangkrik, tapi Daging...
Mulai Langka, Begini Cara Buat Kupat Ketheg, Kuliner Warisan Sunan Giri yang Cuma Ada di Gresik
Amalan Minta Uang Kontan Via 7 Malaikat, Ijazah Keturunan Sunan Drajat Ke-14, Kiai Abdul Ghofur Lamongan
Siapa Mbah Bayat? Inilah Sosok Sunan Tembayat, Anak Bangsawan asal Semarang yang Berguru ke Sunan Kalijaga
3 Kisah Unik Masjid Gholo di Klaten, Dibangun Murid Sunan Kalijaga, Suara Adzannya Bisa Terdengar Sampai Demak?