Minggu, 19 Juli 2026

Tahun 1926 Jadi Pasar Terindah di Pulau Jawa, Kini Bersaing dengan Gedung-Gedung Modern

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 14 Juli 2024 | 12:57 WIB
Ilustrasi pasar terindah di Pulau Jawa. (Pexels.com/Huy Phan)
Ilustrasi pasar terindah di Pulau Jawa. (Pexels.com/Huy Phan)

SketsaNusantara.id - Wilayah Indonesia memiliki banyak sekali pasar tradisional dengan segala ciri khasnya.

Meskipun zaman semakin berubah dengan modernisasi dan industrialisasi, kehadiran pasar tradisional rasa-rasanya sulit digantikan.

Yang berubah dari pasar tradisional mungkin adalah kualitas bangunan agar semakin kokoh dan tidak digerogoti usia zaman.

Baca Juga: Sekelumit Kisah Makanan Manis di Yogyakarta dan Solo, Ternyata Miliki Kisah Penuh Perjuangan pada Masa Tanam Paksa Penjajahan Belanda

Namun, secara umum pasar tradisional terus menghadirkan rangkaian aktivitas transaksi dinamis yang mencerminkan kebiasaan dan budaya lokal.

Ada peran yang sangat vital dari kehadiran pasar tradisional. Pasar menjadi ruang bagi para petani, nelayan, hingga UMKM agar bisa bertemu dan menjual langsung produknya kepada konsumen.

Pasar tradisional di Indonesia punya riwayat sejarah yang sangat panjang.

Baca Juga: 10 Kosakata Bahasa Jawa yang Diserap dari Bahasa Belanda, Nomor 3 Alat Transportasi Tradisional di Yogyakarta

Jauh sebelum era kolonial, melampaui waktu di masa kerajaan-kerajaan Nusantara berjaya, pasar tradisional telah tumbuh dan berkembang pesat.

Di masa penjajahan Belanda, kehadiran pasar tradisional semakin menguatkan peran sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat pribumi.

Bahkan, di Pulau Jawa terdapat salah satu pasar terindah berdasarkan penilaian Pemerintah Hindia Belanda di tahun 1926.

Baca Juga: Petilasan Penguasa Laut Selatan di Yogyakarta, Ada Bukti Pertemuan Raja Mataram Islam Pertama dengan Ratu Kidul

"Een der mooiste passers op Java (salah satu pasar terindah di Jawa)", dilansir SketsaNusantara.id dari buku Yogyakarta Tempo Doeloe karya Arwan Tuti Artha, terbitan Bigraf Publishing tahun 2000.

Pasar yang dimaksud adalah Pasar Beringharjo, lokasi bisnis di kawasan Jalan Malioboro yang menjadi saksi bisu sejarah panjang Kesultanan Yogyakarta.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Yogyakarta Tempo Doeloe, Arwan Tuti Artha, Bigraf (2000)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X