Di Desa Aliyan, tradisi ini terdiri dari lima tahap, yakni persiapan dengan memasang umbul-umbul, membuat kubangan sebagai simbol persemaian padi, membuat gunungan hasil bumi, arak-arakan manusia kerbau, dan pemberian benih padi kepada petani.
Di Desa Alasmalang, tradisi ini terdiri dari tiga tahap: selamatan dengan 12 tumpeng, arak-arakan 30 manusia kerbau keliling desa, dan penanaman benih padi oleh manusia kerbau.
Setiap tahap memiliki makna filosofis, seperti 12 tumpeng yang melambangkan 12 bulan dalam setahun dan 7 porsi jenang suro yang melambangkan 7 hari dalam seminggu.
Kerbau dipilih sebagai simbol karena erat kaitannya dengan kehidupan petani.
Lantaran kerbau lebih kuat daripada sapi, sehingga tradisi ini dinamakan kebo-keboan.
Tradisi ini dilakukan setiap tahun pada bulan Muharram atau Suro menurut penanggalan Jawa, antara tanggal 1 hingga 10 Suro.
Baca Juga: Silsilah Sunan Ampel Beserta Strategi Dakwahnya Menyebarkan Agama Islam di Wilayah Nusantara
Kebo-keboan tidak hanya menarik untuk ditonton tetapi juga penuh dengan nilai sejarah dan budaya.
Tradisi ini menunjukkan rasa syukur dan kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur, serta menjadi daya tarik bagi siapa saja yang ingin mengenal budaya Indonesia lebih dalam.***
Artikel Terkait
Catat! Jadwal Event Banyuwangi Ethno Carnival 2024, Berbagai Kostum Budaya Bakal Dimunculkan
Minggu Kedua Coklit Pilkada Serentak 2024, KPU Banyuwangi Telah Capai 80 Persen Lebih
Surganya Para Surfer, Pantai di Banyuwangi Ini Punya Pura dengan Pemandangan Menakjubkan
Berburu Kuliner Khas Tradisional di Titik 0 Kilometer Banyuwangi, Jajanan Melegenda Lengkap!
2 TPS Khusus akan Dihadirkan di Lapas Banyuwangi pada Pilkada 2024
12 Titik Lemah Abang Warisan Syekh Siti Jenar dari Banten hingga Banyuwangi, Pusat Gerakan Islam Progresif