Setelah itu dilanjutkan pembangunannya oleh Wangsa Syailendra dibawah pemerintahan Samaratungga pada tahun 824 Masehi.
Disebutkan bahwa pembangunan tempat ibadah megah ini dibangun selama setengah abad lebih.
Rentang waktu yang lama inilah yang diyakini sejarahwan, sehingga dipercaya tak hanya satu wangsa yang telah membangunnya namun dilakukan secara terus menerus.
Untuk itu untuk mengetahui siapa sebenarnya yang telah membangun candi ini maka para ahli kemudian merunut waktu pembangunannya yang begitu memakan waktu sehingga kesimpulannya kemudian diambil jalan tengah.
Bahwasanya candi Borobudur dibangun sejak 800 Masehi di saat masa kejayaan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang merupakan penganut Budha Mahayana yang taat.
Unsur Borobudur yang menakjubkan
Borobudur terdiri dari 6 teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar. Sedangkan pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 relief dan aslinya terdapat 504 arca Budha.
Sehingga kini Borobudur dikenal candi yang memiliki relief terlengkap dan terbanyak di dunia. Dimana stupa utama terletak dibagian puncak candi yang sekaligus menjadi mahkota candi.
Dikelilingi oleh 3 bangunan melingkar, 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca Budha yang duduk bersila dalam posisi teratai sempurna.
Para ahli menyebutkan bahwa bangunan candi Borobudur merupakan model alam semesta yang dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha.
Baca Juga: Mengenal Prasasti Tukmas Peninggalan Ratu Jay Shima, Bukti Luasnya Wilayah Kerajaan Kalingga
Sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia dalam napsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha.
Menengok sejarah pembangunan terkait waktu, tentu saja pembangunan candi Borobudur masih jauh dari teknologi, namun ada beberapa fakta menarik yang begitu menakjubkan dan hingga saat ini masih menjadi teka teki tak terpecahkan.
Diketahui bangunan megah Borobudur tak menggunakan perekat dalam meyusun batu andesit yang tersusun rapi namun menggunakan sistem interlocking batu yang begitu presisi.
Selain itu, candi ini menggunakan sistem drahinasi atau saluran air yang begitu canggih terdiri dari parit-parit saluran vertikal, sumur resapan dari batu. Sistem ini mampu menyalurkan air sehingga tampak estetik, tahan lama, dan ramah lingkungan.
Artikel Terkait
Gak Kalah Dahsyat! Ini Rentetan Karomah Sunan Kudus, Kalahkan Kerajaan Majapahit Dengan Serangan 1 Juta Tikus?
Menggali Warisan Budaya Majapahit dalam Kerajaan Islam Jawa: Pewaris Sejati Jawa atau Bali?
Bukan Kesultanan Demak, Ternyata Kerajaan Islam Tertua Ada di Jawa Timur hingga Bekas Bentengnya Bikin Hayam Wuruk Takut
Bukan Majapahit, Tome Pires, Penjelajah Portugis Terpukau, Kerajaan di Jawa Ini Memiliki Istana dan Berbagai Perlengkapan Bersepuh Emas
Dicap Anak Durhaka, Benarkah Raja Kerajaan Demak, Raden Patah, yang Menyerang Majapahit, Kerajaan Ayahnya?
Kisah Sunan Kalijaga dalam Pemilihan Arah Kiblat Sebagai Peranan Penting Pendirian Masjid Agung Demak, Simbol Popularitas Kerajaan?
Bak Atlantis, Kerajaan Demak 'Hilang' tanpa Sisa? Inilah 2 Pusaka Terakhir Peninggalan Kerajaan Islam Pertama di Jawa