Kamis, 4 Juni 2026

Kisah Kerajaan Maritim Nusantara yang Kuasai Jalur Perdagangan Asia Tenggara, Benarkah Pusat Perdagangan yang Jatuh Karena Konflik?

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Rabu, 26 Juni 2024 | 17:45 WIB
Angkatan perang maritim Sriwijaya  (Endang Hartatik )
Angkatan perang maritim Sriwijaya (Endang Hartatik )

Berdirinya Kerajaan Sriwijaya 

Kerajaan Sriwijaya dalam catatan berita China tertua pada tahun 682 masehi menyebutkan bahwa terdapat seorang pendeta Tiongkok bernama I Tsing yang ingin belajar agama Budha di India namun singgah di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta selama 6 bulan.

Dalam catatan I Tsing disebutkan Kerajaan Sriwijaya kala itu dipimpin oleh seorang raja bernama Dapunta Hyang.

Selain itu ada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya sendiri, yakni Prasasti  Kedukan Bukit yang ertahun 605 saka atau 683 Masehi di Palembang.

Isi dari Prasasti Kedukan Bukit itu adalah catatan yang menyebutkan Raja Dapunta Dewa melakukan  ekspansi 8 hari dengan membawa 8 ribu tentara yang berhasil menguasai beberapa daerah sehingga dengan kemenangan itu membaut Sriwijaya semakin makmur.

Dari bukti-bukti diatas bisa disimpulkan bahwa Sriwijaya berdiri sejak abad ke 7 dengan raja pertamanya Dapunta Hyang.

Baca Juga: Sudah Sampai Malaka, Sunan Kalijaga Malah Dilarang ke Mekkah untuk Naik Haji, Dampak Runtuhnya Kerajaan Majapahit?

Kejayaan Kerajaan Sriwijaya 

Sriwijaya merupakan kekuatan maritim pertama dan terlama yang dimiliki oleh Nusantara dimana Sriwijaya hampir 600 tahun menunjukkan kehebatannya di Selat Malaka dan Asia Tenggara.

Kerajaan Sriwijaya awalnya hanya berasal dari kedatuan namun kemudian menjelma menjadi kekuatan maritim tiada tanding pada masa itu.

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya berada pada abad ke 9 hingga 10 Masehi, dimana kerajaan ini menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara dan berhasil menguasai kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, yakni Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Filipina.

Letak geografis Kerajaan Sriwijaya yang menguntungkan menyebabkan kerajaan ini berkembang menjadi pelabuhan utama dan mendominasi selat Malaka atau selat Sunda sehingga Sriwijaya menjelma menjadi pengendali rute perdagangan rempah baik internasional maupun lokal.

Kerajaan maritim ini menguasai jalur perdagangan maritim Asia Tenggara sehingga kapal-kapal dagang bear dari India tak bisa langsung ke China namun harus melalui Selat Malaka.

Di Selat Malaka itulah armada laut Sriwijaya akan mengawal mereka sampai lepas ke laut China Selatan. Sebaliknya pedagang-pedagang China tidak bisa langsung ke India karena harus singgah di wilayah semenanjung Sumatra dan Jawa.

Dari sinilah asal kekayaan Sriwijaya, setiap kapal yang lewat akan dikenai biaya cukai atau pajak, sehingga kerajaan ini mampu mengumpulkan kekayaan dari jasa pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok (China) dan India.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Youtube

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X