Wilayah tersebut memiliki 3 lapangan terbang strategis (Mokmer, Boroke, Sorido) serta pelabuhan logistik yang menjadi incaran utama pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur.
Untuk merebut pulau ini, armada udara dan laut Amerika Serikat membombardir Biak habis-habisan secara masif. Jutaan peluru artileri, granat, dan bom udara dengan bobot ratusan hingga ribuan pon dijatuhkan.
Pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur menyerang besar-besaran dalam peristiwa yang dikenal sebagai Battle of Biak atau Pertempuran Biak.
Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai studi, diketahui bahwa sekitar 10% hingga 30% dari total bom yang dijatuhkan pada era Perang Dunia II gagal meledak saat menyentuh tanah lunak, berlumpur rawa, atau karena kegagalan mekanis pada sekring (fuze) bom.
Amunisi yang gagal meledak ini perlahan tertimbun sedimen tanah dan terkorosi selama lebih dari 80 tahun. Bom yang terkubur atau tertanam di dalam tanah sebagian belum meledak atau yang disebut UXB (Unexploded Bomb) atau dalam istilah militer dikenal sebagai UXO (Unexploded Ordnance).
Terkubur puluhan tahun bahan peledak di dalam bom sebenarnya bisa tetap aktif dalam waktu sangat lama. Meski bagian luar bom berkarat dan terlihat tua, bahan peledak seperti TNT kadang masih stabil dan berbahaya selama puluhan hingga ratusan tahun.
Bahkan di negara seperti Jerman, Jepang, Inggris, dan Singapura, bom peninggalan PD II masih rutin ditemukan sampai sekarang.
Beberapa faktor yang bisa memicu peledakan bom sisa PD II kemungkinan karena benturan keras, terkena panas ekstrem hingga aktivitas lain seperti penggalian tanah yang memicu detonator hingga meledak.
Dalam pernyataannya, salah satu warganet yang tinggal di Papua juga mengungkapkan kasus warga yang secara tidak sengaja menemukan benda mirip besi tua, lalu mencoba membukanya atau menjualnya sebagai rongsokan.
Hal tersebut sangat berbahaya karena detonator lama bisa tiba-tiba aktif akibat gesekan atau tekanan kecil bahkan bisa memicu terjadi ledakan.
"Kami di Papua ini jika warga menemukan proyektil peluru seperti itu (dianggap seperti mendapatkan harta karun) langsung diambil dan digergaji, karena minimnya pengetahuan akan dampak ikutannya dari benda-benda tersebut," tulis akun Instagram @saya.george.
"Untuk itu Pemerintah Daerah melalui pihak POLRI dan TNI harus beri edukasi ke masyarakat luas bahwa benda-benda ini sangat sensitif dan bisa memicu ledakan. Jadi, harus segera melaporkan dan serahkan sepenuhnya kepada pihak yang berkompeten yaitu tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) TNI atau Brimob Polri untuk diledakkan secara aman (disposal)," pesan warganet yang diduga bernama George tersebut.
Dugaan awal bom yang meledak ternyata berada di bawah rumah panggung dekat pesisir dan kemungkinan sudah lama tertimbun tanah atau endapan pasir.
Artikel Terkait
Kronologi Ledakan Amunisi Tak Layak Pakai di Garut, 4 Anggota TNI AD dan 9 Warga Sipil Jadi Korban, Apa Penyebabnya?
Sebut Kecelakaan Kerja, Gubernur Jawa Barat Tanggung Anak-Anak Korban Ledakan Amunisi Garut hingga Kuliah
Nekat Bikin Mercon Rakitan, 3 Remaja di Grobogan Jadi Korban Ledakan Petasan hingga Dilarikan ke Rumah Sakit
Heboh! Ledakan di Masjid Pesona Regency Patrang, Jember Kejutkan Jemaah Tarawih, Plafon hingga Lemari Hancur
Deretan Fakta Insiden Kebakaran Warung Gorengan di Kecamatan Jelbuk, Jember, Sempat Terdengar Ledakan?
5 Fakta Ledakan di Perbatasan Surabaya-Sidoarjo, Sejumlah Rumah Warga Rusak dan 1 Orang Meninggal Dunia Diduga Akibat Kecelakaan Kerja di Pabrik Baja