Minggu, 19 Juli 2026

Ledakan Dahsyat di Papua Jadi Sorotan Media Asing, Begini Jejak Historis Perang Dunia II di Pulau Biak yang Pernah Jadi Markas Pertahanan Jepang

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 1 Juni 2026 | 14:00 WIB
Potret amunisi bom sisa Perang Dunia II yang ditemukan di Pulau Biak pasca terjadi ledakan di kawasan kompleks perikanan dekat pesisir pantai (X/NaraSenyap)
Potret amunisi bom sisa Perang Dunia II yang ditemukan di Pulau Biak pasca terjadi ledakan di kawasan kompleks perikanan dekat pesisir pantai (X/NaraSenyap)

Wilayah tersebut memiliki 3 lapangan terbang strategis (Mokmer, Boroke, Sorido) serta pelabuhan logistik yang menjadi incaran utama pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur.

Untuk merebut pulau ini, armada udara dan laut Amerika Serikat membombardir Biak habis-habisan secara masif. Jutaan peluru artileri, granat, dan bom udara dengan bobot ratusan hingga ribuan pon dijatuhkan.

Pasukan Sekutu di bawah Jenderal Douglas MacArthur menyerang besar-besaran dalam peristiwa yang dikenal sebagai Battle of Biak atau Pertempuran Biak.

Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai studi, diketahui bahwa sekitar 10% hingga 30% dari total bom yang dijatuhkan pada era Perang Dunia II gagal meledak saat menyentuh tanah lunak, berlumpur rawa, atau karena kegagalan mekanis pada sekring (fuze) bom.

Baca Juga: Viral Penumpang Teriak Ada Bom yang Mengganggu Penerbangan Lion Air, Kemenhub Kenakan Sanksi Tegas bagi Pelaku Penyebar Info Palsu, Ini Dasar Hukumnya

Amunisi yang gagal meledak ini perlahan tertimbun sedimen tanah dan terkorosi selama lebih dari 80 tahun. Bom yang terkubur atau tertanam di dalam tanah sebagian belum meledak atau yang disebut UXB (Unexploded Bomb) atau dalam istilah militer dikenal sebagai UXO (Unexploded Ordnance).

Terkubur puluhan tahun bahan peledak di dalam bom sebenarnya bisa tetap aktif dalam waktu sangat lama. Meski bagian luar bom berkarat dan terlihat tua, bahan peledak seperti TNT kadang masih stabil dan berbahaya selama puluhan hingga ratusan tahun.

Bahkan di negara seperti Jerman, Jepang, Inggris, dan Singapura, bom peninggalan PD II masih rutin ditemukan sampai sekarang.

Beberapa faktor yang bisa memicu peledakan bom sisa PD II kemungkinan karena benturan keras, terkena panas ekstrem hingga aktivitas lain seperti penggalian tanah yang memicu detonator hingga meledak.

Baca Juga: Eksotis! Bunker Jepang Desa Kencong Jember Jawa Timur, Peninggalan Bersejarah Masa Perang Dunia II yang Punya Cerita Menarik

Dalam pernyataannya, salah satu warganet yang tinggal di Papua juga mengungkapkan kasus warga yang secara tidak sengaja menemukan benda mirip besi tua, lalu mencoba membukanya atau menjualnya sebagai rongsokan.

Hal tersebut sangat berbahaya karena detonator lama bisa tiba-tiba aktif akibat gesekan atau tekanan kecil bahkan bisa memicu terjadi ledakan.

"Kami di Papua ini jika warga menemukan proyektil peluru seperti itu (dianggap seperti mendapatkan harta karun) langsung diambil dan digergaji, karena minimnya pengetahuan akan dampak ikutannya dari benda-benda tersebut," tulis akun Instagram @saya.george.

"Untuk itu Pemerintah Daerah melalui pihak POLRI dan TNI harus beri edukasi ke masyarakat luas bahwa benda-benda ini sangat sensitif dan bisa memicu ledakan. Jadi, harus segera melaporkan dan serahkan sepenuhnya kepada pihak yang berkompeten yaitu tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) TNI atau Brimob Polri untuk diledakkan secara aman (disposal)," pesan warganet yang diduga bernama George tersebut.

Dugaan awal bom yang meledak ternyata berada di bawah rumah panggung dekat pesisir dan kemungkinan sudah lama tertimbun tanah atau endapan pasir.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X