Minggu, 19 Juli 2026

6 Fakta Menarik Halal Bihalal di Indonesia, Tradisi Silaturahmi Pasca Lebaran Penuh Makna, Sudah Dilakukan Sejak Zaman Kerajaan Abad ke-18

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 23 Maret 2026 | 13:30 WIB
Momen Halal Bihalal yang jadi tradisi khas Lebaran di Indonesia (Facebook Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir)
Momen Halal Bihalal yang jadi tradisi khas Lebaran di Indonesia (Facebook Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir)

Baca Juga: Perjalanan Pulang Kampung Makin Berkesan, Ini Sederet Rekomendasi Playlist Lagu untuk Temani Mudik Lebaran, Dijamin Gak Bikin Bosan!

Namun, kesalahan antar sesama manusia atau yang disebut haqqu al-adami, tidak cukup hanya diselesaikan dengan taubat kepada Allah dan harus diselesaikan dengan saling bermaafkan.

Hal inilah yang menjadikan Halal Bihalal penting untuk dilakukan untuk menyelesaikan hak adami, dengan memohon maaf secara langsung atas kesalahan yang dilakukan kepada sesama manusia.

4. Dicetuskan Pendiri NU di tengah Ketegangan Politik

Halal Bihalal ini populer yang pertama kali dikenalkan oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni KH Abdul Wahab Hasbullah.

Kala itu Kyai Wahab menyarankan penggunaan istilah Halal Bihalal kepada Presiden Soekarno pada tahun 1946 saat negara menghadapi ketegangan konflik internal pasca Lebaran.

5. Halal Bihalal Ada sejak Zaman Kerajaan di Abad ke-18

Menariknya, tradisi halal bihalal diyakini sudah berakar sejak zaman kerajaan Jawa pada masa pemerintahan Mangkunegara I di abad ke-18.

Kala itu, untuk menghemat waktu dan tenaga, raja mengumpulkan punggawa dan prajurit di istana setelah salat Idul Fitri untuk saling bermaaf-maafan atau sungkeman.

Momen sungkeman ini dipelopori oleh Pangeran Sambernyawa di Keraton Surakarta. Tradisi ini dilakukan untuk mempermudah pertemuan silaturahmi antara raja dan rakyatnya secara serentak.

6. Halal Bihalal Dipopulerkan Pedagang Martabak dari India

Dalam beberapa sumber, disebutkan bahwa istilah Halal Bihalal ini pernah dipopulerkan pada tahun 1935-1936 oleh pedagang martabak asal India di Solo.

Penjual martabak dari India tersebut dibantu oleh pembantu lokal yang mempromosikan dagangannya dengan kata-kata, "martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal".

Istilah ini kemudian melekat bagi warga Solo dan berkembang menjadi tradisi silaturahmi dan saling bermaafan saat acara Halal Bihalal.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: mui.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X