Kamis, 4 Juni 2026

Asal-usul Opor Ayam yang Terhidang Saat Idul Fitri, Akulturasi Budaya India, Arab, dan Jawa dalam Tradisi Lebaran

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Jumat, 20 Maret 2026 | 07:30 WIB
Sejarah Opor Ayam  (Instagram @mienscatering)
Sejarah Opor Ayam (Instagram @mienscatering)

SketsaNusantara.id - Bagi masyarakat Indonesia, Lebaran kurang lengkap rasanya jika tanpa opor ayam yang disajikan dengan ketupat atau nasi. 

Opor ayam kini seolah menjadi makanan wajib yang harus ada di meja makan mayarakat nusantara saat Idul Fitri.

Namun, tahukah Anda bahwa hidangan opor ayam ini bukan sekadar resep turun-temurun, tapi juga simbol keberagaman budaya?

Baca Juga: Anti Buang-Buang! Manfaatkan Sisa Bumbu Rendang dan Opor Sisa Lebaran Kamu Menjadi Nasi Goreng Maknyus

Hal itu diungkap oleh Sejarawan Kuliner, Fadly Rahman, penulis buku Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial (1870-1942).

Dalam bukunya, Fadly Rahman menyebutkan bahwa opor adalah hasil "perkawinan" berbagai budaya dunia.

Menurutnya, opor ayam masuk ke Indonesia merupakan hasil dari akulturasi atau penyatuan budaya Indonesia dengan budaya asing, khususnya pengaruh Arab dan India yakni perpaduan antara kari dan gulai.

Baca Juga: Kuah Opor Ayam Saat Lebaran Cepat Basi? Ini 6 Cara Menyimpan Olahan Santan Agar Lebih Tahan Lama dan Tetap Enak

Opor masuk ke Indonesia sekitar abad ke 15-16 sebelum masehi, di mana para pedagang 2 negara tersebut masuk ke wilayah pesisir yakni Jawa, Sumatera dan Selat Malaka.

Kari dari India di mana opor memiliki kemiripan dasar dengan kari, terutama dalam penggunaan rempah dan tekstur kuah yang kental.

Sedangkan gulai dari Arab, masuknya pengaruh Islam ke Nusantara membawa tradisi mengolah daging dengan kuah bumbu yang pekat, yang kemudian beradaptasi dengan lidah lokal.

Baca Juga: 5 Tips Sehat Makan Opor Ayam dan Ketupat Saat Lebaran Idul Fitri, Nomor 2 Jadi Reminder Jangan Sampai Kalap

Meskipun terinspirasi dari luar, opor dalam perkembangannya mengalami proses "pribumisasi". 

Menurut Fadly Rahman, opor adalah bukti betapa inklusifnya kuliner Nusantara. Ia menyerap pengaruh asing, namun tetap mempertahankan jati diri lokal melalui bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Buku Fadly Rahman: Rijsttafel, Budaya Kuliner di Indonesia M

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X