SketsaNusantara.id - Nama Sunan Giri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Selain berperan besar dalam dakwah dan pendidikan keagamaan, tokoh yang memiliki nama asli Raden Paku tersebut juga dikenal memiliki pengaruh terhadap tradisi budaya masyarakat, termasuk dalam bidang kuliner.
Salah satu makanan yang sering dikaitkan dengan Sunan Giri adalah Kupat Ketheg, kuliner khas dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Makanan tradisional ini dikenal sebagai hidangan istimewa yang kerap disajikan dalam tradisi keagamaan, khususnya saat peringatan Malam Slawe di bulan Ramadhan.
Kupat Ketheg memiliki bentuk yang menyerupai ketupat pada umumnya. Namun, bahan dan proses pembuatannya cukup berbeda dari ketupat biasa. Hidangan ini dibuat dari beras ketan yang terlebih dahulu direndam menggunakan air ketheg.
Air ketheg sendiri merupakan air endapan minyak mentah yang berasal dari sumur minyak tua. Cairan ini dikenal memiliki warna kehijauan dan dipercaya mampu memberikan cita rasa khas pada makanan.
Setelah direndam dengan air ketheg, beras ketan kemudian dibungkus menggunakan anyaman daun kebang. Proses memasak kupat ketheg memerlukan waktu cukup lama, yakni sekitar lima jam hingga benar-benar matang.
Setelah matang, kupat ketheg biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut serta siraman saus gula merah. Kombinasi tersebut menghasilkan cita rasa gurih sekaligus manis yang menjadi ciri khas kuliner tradisional ini.
Baca Juga: Kisah Sunan Ampel Ditikam Lembu Peteng saat Dakwah Damai Wali Songo di Tengah Cemooh dan Perlawanan
Masyarakat setempat menyebut bahwa kupat ketheg merupakan salah satu makanan yang dahulu disukai oleh Sunan Giri. Oleh karena itu, hidangan ini sering dihadirkan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tradisi ziarah di kawasan makam Sunan Giri.
Dilansir SketsaNusantara.id dari YouTube Rafa Ahrul Channel, salah satu momentum penting yang identik dengan penyajian kupat ketheg adalah tradisi Malam Slawe. Tradisi ini berlangsung pada malam ke-25 bulan Ramadhan, yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai malam yang mendekati datangnya Lailatul Qadar.
Pada malam tersebut, banyak masyarakat dan peziarah yang datang ke kawasan makam Sunan Giri untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan, seperti beriktikaf, membaca Al-Qur’an, hingga berdoa bersama.
Di tengah suasana religius tersebut, kupat ketheg kerap dijadikan hidangan khas yang dinikmati oleh para peziarah maupun masyarakat sekitar.
Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, keberadaan kupat ketheg saat ini semakin jarang ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah bahan utama yang semakin sulit diperoleh.
Artikel Terkait
Pangeran Diponegoro Pernah Ketemu Sunan Kalijaga? Ada Ramalan Mencengangkan yang Diucapkan Anggota Wali Songo
Inilah Alasan Warga Kudus Tak Kurban Sapi dan Menggantinya dengan Kerbau, Ada Kaitannya dengan Salah Satu Wali Songo
3 Kesaktian Sunan Bonang Paling Legendaris hingga Bisa Membuat Banyak Orang Masuk Islam, Jadi Kisah Wali Songo yang Paling Diingat
Menyingkap Karomah Tersembunyi 3 Tokoh Wali Songo yang Terkenal Paling Sakti di Tanah Jawa, Salah Satunya Ada Hubungannya dengan Palestina
Jejak Nawa Dewata di Balik Konsep Wali Songo pada Era Majapahit, Penjaga Alam Semesta yang Melindungi Arah Mata Angin
Bukan Sekadar Dakwah, Inilah 8 Tugas Rahasia Wali Songo dalam Membangun Ulang Jawa Lama