Kamis, 4 Juni 2026

Tradisi Malam Slawe dan Kupat Ketheg, Kuliner Khas Gresik yang Melekat dengan Jejak Dakwah Sunan Giri

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 7 Maret 2026 | 18:30 WIB
Kupat Ketheg, Kuliner Khas Gresik (Instagram @wisatagresik)
Kupat Ketheg, Kuliner Khas Gresik (Instagram @wisatagresik)

SketsaNusantara.id - Nama Sunan Giri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Selain berperan besar dalam dakwah dan pendidikan keagamaan, tokoh yang memiliki nama asli Raden Paku tersebut juga dikenal memiliki pengaruh terhadap tradisi budaya masyarakat, termasuk dalam bidang kuliner.

Salah satu makanan yang sering dikaitkan dengan Sunan Giri adalah Kupat Ketheg, kuliner khas dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Makanan tradisional ini dikenal sebagai hidangan istimewa yang kerap disajikan dalam tradisi keagamaan, khususnya saat peringatan Malam Slawe di bulan Ramadhan.

Kupat Ketheg memiliki bentuk yang menyerupai ketupat pada umumnya. Namun, bahan dan proses pembuatannya cukup berbeda dari ketupat biasa. Hidangan ini dibuat dari beras ketan yang terlebih dahulu direndam menggunakan air ketheg.

Baca Juga: Api Abadi Mrapen dan Jejak Gaib Sunan Kalijaga: Dari Tongkat Wali Songo hingga Menyala di Panggung Dunia Selama Puluhan Tahun

Air ketheg sendiri merupakan air endapan minyak mentah yang berasal dari sumur minyak tua. Cairan ini dikenal memiliki warna kehijauan dan dipercaya mampu memberikan cita rasa khas pada makanan.

Setelah direndam dengan air ketheg, beras ketan kemudian dibungkus menggunakan anyaman daun kebang. Proses memasak kupat ketheg memerlukan waktu cukup lama, yakni sekitar lima jam hingga benar-benar matang.

Setelah matang, kupat ketheg biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut serta siraman saus gula merah. Kombinasi tersebut menghasilkan cita rasa gurih sekaligus manis yang menjadi ciri khas kuliner tradisional ini.

Baca Juga: Kisah Sunan Ampel Ditikam Lembu Peteng saat Dakwah Damai Wali Songo di Tengah Cemooh dan Perlawanan

Masyarakat setempat menyebut bahwa kupat ketheg merupakan salah satu makanan yang dahulu disukai oleh Sunan Giri. Oleh karena itu, hidangan ini sering dihadirkan dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tradisi ziarah di kawasan makam Sunan Giri.

Dilansir SketsaNusantara.id dari YouTube Rafa Ahrul Channel, salah satu momentum penting yang identik dengan penyajian kupat ketheg adalah tradisi Malam Slawe. Tradisi ini berlangsung pada malam ke-25 bulan Ramadhan, yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai malam yang mendekati datangnya Lailatul Qadar.

Pada malam tersebut, banyak masyarakat dan peziarah yang datang ke kawasan makam Sunan Giri untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan, seperti beriktikaf, membaca Al-Qur’an, hingga berdoa bersama.

Baca Juga: Tersembunyi di Belantara, Tempat Ibadah di Wonogiri ini Disebut sebagai Rintisan Masjid Demak Peninggalan Wali Songo

Di tengah suasana religius tersebut, kupat ketheg kerap dijadikan hidangan khas yang dinikmati oleh para peziarah maupun masyarakat sekitar.

Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, keberadaan kupat ketheg saat ini semakin jarang ditemukan. Salah satu penyebabnya adalah bahan utama yang semakin sulit diperoleh.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X