Minggu, 19 Juli 2026

Bukan Sekedar Estetika, Perayaan Grebeg Sudiro Menyambut Imlek di Solo Juga Dimeriahkan Pertunjukan Barongsai Berbagai Warna, Ternyata Ini Maknanya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Selasa, 17 Februari 2026 | 07:00 WIB
Potret pertunjukan Barongsai dengan beragam warna dalam festival Grebeg Sudiro yang diselenggarakan menyambut Tahun Baru Imlek di Surakarta  (Instagram/grebeg_sudiro)
Potret pertunjukan Barongsai dengan beragam warna dalam festival Grebeg Sudiro yang diselenggarakan menyambut Tahun Baru Imlek di Surakarta (Instagram/grebeg_sudiro)

Barongsai dengan warna hijau melambangkan keharmonisan, persahabatan, dan pertumbuhan atau awal baru. Sedangkan warna biru mencerminkan ketenangan dan harapan akan datang masa depan yang lebih baik.

Selain itu, barongsai warna putih juga kerap ditampilkan saat peryaan Imlek sebagai simbol kesucian dan kebijaksanaan. Dalam perayaan tradisional, warna ini juga bisa menjadi simbol yang melambangkan kebijaksanaan.

Berbeda dengan yang lainnya, barongsai warna hitam melambangkan kekuatan dan kegagahan. Biasanya, menggambarkan karakter singa muda yang paling muda, lincah dan penuh energi, sebagai representasi prajurit yang tangguh.

Tak kalah menarik perhatian, barongsai merah muda (pink) jarang ditremuai sebagai variasi modern yang melambangkan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan dan biasanya dipertunjukkan dalam upacara penikahan.

Dalam tradisi barongsai gaya Nan Shi (Singa Selatan), warna-warna tersebut juga kerap dikaitkan dengan tokoh dalam novel klasik Tiongkok dari legenda "Romance of the Three Kingdoms".

Setiap warna barongsai mewakili tiap karakter misalnya, merah merepresentasikan karakter ksatria Guan Yu yang gagah berani, hitam menggambarkan Zhang Fei yang tegas dan energik, sementara kuning atau emas melambangkan Liu Bei yang bijaksana dan berwibawa.

Baca Juga: Pernah Dilarang Soeharto, Inilah Sejarah Panjang Perayaan Imlek di Indonesia hingga Gus Dur Dijuluki Bapak Pluralisme

Tak hanya warna, gaya gerakan barongsai pun berbeda sesuai karakternya. Barongsai hitam tampil agresif dan lincah dengan banyak lompatan akrobatik, mencerminkan semangat muda yang penuh energi.

Berbeda dengan barongsai putih yang tampil lebih lambat, penuh kehati-hatian, dan menonjolkan detail ekspresi anggun menunjukkan sisi spiritual serta kemurnian hati.

Barongsai merah bergerak sigap dan berani namun tetap terkontrol, menunjukkan jiwa ksatria. Sementara barongsai kuning atau emas bergerak lebih tenang dan berwibawa, menggambarkan kepemimpinan yang matang.

Keberagaman warna dan karakter inilah yang membuat pertunjukan barongsai di Grebeg Sudiro dalam perayaan imlek tahun ini terasa berbeda.

Bukan hanya hiburan visual, tetapi juga sarat filosofi tentang kehidupan, kepemimpinan, persahabatan, hingga harapan menyambut tahun yang baru.

Melalui Grebeg Sudiro, masyarakat Solo kembali menunjukkan bahwa perayaan Imlek bukan sekadar seremoni budaya, melainkan simbol persatuan dalam keberagaman.

Warna-warni barongsai yang menari di jalanan Pasar Gede menjadi gambaran indah tentang akulturasi budaya yang hidup dalam harmoni Jawa dan Tionghoa yang terus terjaga hingga kini.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X