Barongsai dengan warna hijau melambangkan keharmonisan, persahabatan, dan pertumbuhan atau awal baru. Sedangkan warna biru mencerminkan ketenangan dan harapan akan datang masa depan yang lebih baik.
Selain itu, barongsai warna putih juga kerap ditampilkan saat peryaan Imlek sebagai simbol kesucian dan kebijaksanaan. Dalam perayaan tradisional, warna ini juga bisa menjadi simbol yang melambangkan kebijaksanaan.
Berbeda dengan yang lainnya, barongsai warna hitam melambangkan kekuatan dan kegagahan. Biasanya, menggambarkan karakter singa muda yang paling muda, lincah dan penuh energi, sebagai representasi prajurit yang tangguh.
Tak kalah menarik perhatian, barongsai merah muda (pink) jarang ditremuai sebagai variasi modern yang melambangkan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan dan biasanya dipertunjukkan dalam upacara penikahan.
Dalam tradisi barongsai gaya Nan Shi (Singa Selatan), warna-warna tersebut juga kerap dikaitkan dengan tokoh dalam novel klasik Tiongkok dari legenda "Romance of the Three Kingdoms".
Setiap warna barongsai mewakili tiap karakter misalnya, merah merepresentasikan karakter ksatria Guan Yu yang gagah berani, hitam menggambarkan Zhang Fei yang tegas dan energik, sementara kuning atau emas melambangkan Liu Bei yang bijaksana dan berwibawa.
Tak hanya warna, gaya gerakan barongsai pun berbeda sesuai karakternya. Barongsai hitam tampil agresif dan lincah dengan banyak lompatan akrobatik, mencerminkan semangat muda yang penuh energi.
Berbeda dengan barongsai putih yang tampil lebih lambat, penuh kehati-hatian, dan menonjolkan detail ekspresi anggun menunjukkan sisi spiritual serta kemurnian hati.
Barongsai merah bergerak sigap dan berani namun tetap terkontrol, menunjukkan jiwa ksatria. Sementara barongsai kuning atau emas bergerak lebih tenang dan berwibawa, menggambarkan kepemimpinan yang matang.
Keberagaman warna dan karakter inilah yang membuat pertunjukan barongsai di Grebeg Sudiro dalam perayaan imlek tahun ini terasa berbeda.
Bukan hanya hiburan visual, tetapi juga sarat filosofi tentang kehidupan, kepemimpinan, persahabatan, hingga harapan menyambut tahun yang baru.
Melalui Grebeg Sudiro, masyarakat Solo kembali menunjukkan bahwa perayaan Imlek bukan sekadar seremoni budaya, melainkan simbol persatuan dalam keberagaman.
Warna-warni barongsai yang menari di jalanan Pasar Gede menjadi gambaran indah tentang akulturasi budaya yang hidup dalam harmoni Jawa dan Tionghoa yang terus terjaga hingga kini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Roger Danuarta Rayakan Imlek Meski Sudah Jadi Mualaf, Bagaimana Hukumnya Ikut Merayakan Tahun Baru Cina Menurut Islam? Begini Pendapat Ulama
Awas Sial! 8 Larangan saat Imlek Ini Diyakini Bisa Mengusir Rezeki, Salah Satunya Tidak Boleh Menyapu Rumah
Cari Hadiah Imlek? Hindari 8 Barang Berikut, Dipercaya Bisa Membawa Sial hingga Memanggil Hantu!
Kerap Diucapkan saat Perayaan Imlek, Ternyata Ini Arti Sebenarnya dari Kalimat Gong Xi Fa Cai, Bukan Ucapan Selamat Tahun Baru?
Mengenal Kue Tutun, Hidangan Ikonik Pembawa Keberuntungan di Hari Raya Imlek yang Syarat Makna Filosofis
Isi Angpao Imlek Biasanya Berapa? Begini Loh Tata Cara hingga Aturannya, Jangan Kasih Uang dengan Jumlah...