Museum juga menampilkan alat gosrok, keren, serta peralatan tradisional lainnya. Seluruh koleksi dirawat dengan prosedur konservasi sederhana namun teratur.
Pengunjung tidak hanya melihat koleksi statis. Mereka juga dapat mencoba permainan tradisional seperti bakiak dan egrang.
Aktivitas ini memberikan pengalaman interaktif, terutama bagi anak-anak dan pelajar. Permainan tradisional menjadi sarana mengenalkan budaya lokal secara menyenangkan.
Selain pameran, museum mengembangkan pelatihan peternakan kambing. Konsep yang diterapkan dikenal sebagai “Ra Ngarit, Ra Angon Ra Mambu”.
Konsep tersebut menekankan pengelolaan pakan dedaunan kering. Sistem ini memudahkan perawatan ternak tanpa aktivitas mencari rumput.
Kegiatan pelatihan menjadi bagian dari edukasi pertanian terpadu. Program ini memperkenalkan inovasi sederhana dalam peternakan rakyat.
Museum Tani Jawa Indonesia buka setiap Senin hingga Sabtu. Jam operasional dimulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Kehadiran museum ini memperkaya khazanah wisata edukasi di Yogyakarta. Nilai sejarah dan budaya pertanian tersaji dalam ruang belajar terbuka.
Museum Tani Jawa Indonesia menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan. Warisan pertanian tradisional dirawat untuk generasi mendatang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Mengenang Perjuangan Sang Ahli Perang Gerilya melalui Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman, Kediaman Dinas Bapak TNI di Masa Lalu
Harga Tiket Masuk Museum Nasional Naik, Netizen Protes ke Fadli Zon: Kenakan 900 Persen dalam Waktu 5 Tahun
Harga Tiket Masuk Museum Nasional Indonesia per 1 Januari 2026 Lengkap dengan Jam Operasional hingga Cara Beli
4 Fakta Museum Nasional yang Disorot Gara-gara Harga Tiket Masuk, Terbesar di ASEAN hingga Patung Ikonik dari Raja Thailand
Prilly Latuconsina Kunjungi Museum Fujiko F. Fujio, Pencipta Manga Doraemon: Impian Masa Kecil Tercapai