Selain itu, situs ini menjadi tujuan ziarah umat Hindu dari Bali. Para peziarah datang untuk berdoa dan membawa persembahan. Kegiatan tersebut berlangsung secara berkala.
Di tengah aktivitas tersebut, berkembang pula berbagai mitos lokal. Salah satu mitos berkaitan dengan larangan menangkap ular di area candi. Tindakan tersebut dipercaya membawa malapetaka.
Ada pula kepercayaan tentang ular penunggu. Masyarakat menyebutnya sebagai ular kobra putih bermahkota. Sosok ini diyakini menjaga kawasan situs.
Barang-barang di sekitar candi juga dianggap memiliki nilai sakral. Karena itu, pengunjung diimbau menjaga sikap. Pengelolaan situs melibatkan masyarakat dan dinas terkait.
Kegiatan bersih-bersih rutin dilakukan bersama. Upacara adat juga digelar untuk menjaga kelestarian. Candi Deres terus dipelihara sebagai bagian warisan budaya lokal.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Menguak Misteri di Balik Petilasan Mbah Demang, Sosok Legendaris Pembabat Alas Jember, Utusan Wali yang Konon Dekat dengan Majapahit
7 Kasta Zaman Majapahit dan Demak yang Jarang Dibahas Buku Sejarah, Ada 3 Golongan Buangan yang Menyedihkan di Era Pra-Islam
Perlu Diterapkan di Zaman Sekarang? Inilah 19 Hukum di Era Majapahit: Dari Pelecehan hingga Fitnah Bisa Dihukum Mati
Eksotisme Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi, dari Peninggalan Majapahit hingga Jadi Tempat Surving yang Mendunia
2 Penemuan Unik dari Candi Peninggalan Majapahit di Pasuruan, Simbol Sakral Warisan Kerajaan Kuno yang Tersembunyi