SketsaNusantara.id - Kabupaten Bantul dikenal luas sebagai daerah dengan aktivitas kerajinan yang berkembang pesat.
Beragam usaha kecil menengah tumbuh di wilayah ini. Salah satu produk yang menjadi ikon Bantul adalah kerajinan gerabah.
Sentra gerabah yang paling dikenal berada di kawasan Kasongan. Dilansir dari Jogjaprov.go.id, wilayah ini menjadi tujuan wisata sekaligus pusat produksi kerajinan tanah liat. Nama Kasongan telah lama melekat sebagai simbol gerabah khas Yogyakarta.
Kasongan secara administratif berada di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Lokasinya berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Akses menuju kawasan ini tergolong mudah bagi wisatawan.
Perjalanan ke Kasongan dapat ditempuh melalui Jalan Bantul ke arah selatan. Pengunjung akan menemukan gapura besar sebagai penanda kawasan. Gapura tersebut diapit dua patung kuda yang menjadi ciri khas pintu masuk Kasongan.
Di sepanjang jalan utama Kasongan, berderet showroom kerajinan gerabah. Berbagai produk dipajang secara terbuka di depan toko. Pengunjung dapat melihat langsung hasil karya para perajin setempat.
Produk yang ditawarkan sangat beragam bentuk dan fungsi. Beberapa di antaranya berupa guci, pot bunga, dan keramik dekoratif. Selain itu, terdapat patung, air mancur, serta produk terra cotta.
Kasongan juga dikenal dengan hasil kerajinan bernilai seni tinggi. Beberapa karya digunakan sebagai elemen dekorasi rumah. Tidak sedikit pula yang dijadikan pelengkap taman dan ruang terbuka.
Sejarah Kasongan berawal dari peristiwa pada masa penjajahan Belanda. Dikisahkan seekor kuda milik petugas Belanda mati di tanah warga. Pemilik tanah khawatir akan menerima hukuman dari pemerintah kolonial.
Karena rasa takut tersebut, warga tersebut melepaskan hak kepemilikan tanahnya. Tindakan itu kemudian diikuti oleh beberapa warga lain. Akibatnya, sejumlah bidang tanah berpindah tangan.
Warga yang kehilangan tanah akhirnya mencari mata pencaharian baru. Mereka mulai mengolah tanah liat yang tersedia di sekitar permukiman. Dari proses itu, lahirlah kerajinan sederhana berupa mainan dan alat dapur.
Artikel Terkait
Tak Sekadar Pemandangan Merapi, Desa Wisata Tunggul Arum Tawarkan Ritual Budaya, Kuliner Lokal, dan Spot Transit Lava Tour
Daya Tarik Desa Wisata Gabugan Sleman Yogyakarta, Konsep Pedesaan Alami dengan Agrowisata Salak Gading dan Aktivitas Edukatif
Daya Tarik Desa Wisata Trumpon Sleman Yogyakarta: Kebun Salak Pondoh dengan Pemandangan Merapi hingga Menoreh
Hanya 5 KM dari Monjali, Desa Wisata Tanjung Sleman Menyimpan Joglo 200 Tahun dan Pengalaman Hidup yang Masih Utuh
Desa Wisata Pulesari Sleman: Konsep Go Green, Sungai Jernih, dan Agrowisata Salak yang Ramai sejak 2012