Minggu, 19 Juli 2026

Desa Wisata Kasongan Bantul, Sentra Gerabah Yogyakarta dengan Sejarah Panjang dan Deretan Showroom Kerajinan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 24 Januari 2026 | 18:30 WIB
Pengrajin gerabah di desa wisata Kasongan, Bantul, Yogyakarta. (Bantulkab.go.id)
Pengrajin gerabah di desa wisata Kasongan, Bantul, Yogyakarta. (Bantulkab.go.id)

SketsaNusantara.id - Kabupaten Bantul dikenal luas sebagai daerah dengan aktivitas kerajinan yang berkembang pesat.

Beragam usaha kecil menengah tumbuh di wilayah ini. Salah satu produk yang menjadi ikon Bantul adalah kerajinan gerabah.

Sentra gerabah yang paling dikenal berada di kawasan Kasongan. Dilansir dari Jogjaprov.go.id, wilayah ini menjadi tujuan wisata sekaligus pusat produksi kerajinan tanah liat. Nama Kasongan telah lama melekat sebagai simbol gerabah khas Yogyakarta.

Baca Juga: Bukan Liburan Biasa, Desa Wisata Adat Kemiren Banyuwangi Ajak Wisatawan Mengenal Adat dan Budaya, Seperti Kembali ke Zaman Dulu

Kasongan secara administratif berada di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Lokasinya berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Akses menuju kawasan ini tergolong mudah bagi wisatawan.

Perjalanan ke Kasongan dapat ditempuh melalui Jalan Bantul ke arah selatan. Pengunjung akan menemukan gapura besar sebagai penanda kawasan. Gapura tersebut diapit dua patung kuda yang menjadi ciri khas pintu masuk Kasongan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Liburan, Desa Wisata Kebonagung Bantul Ajak Wisatawan Menanam Padi hingga Belajar Budaya Desa

Di sepanjang jalan utama Kasongan, berderet showroom kerajinan gerabah. Berbagai produk dipajang secara terbuka di depan toko. Pengunjung dapat melihat langsung hasil karya para perajin setempat.

Produk yang ditawarkan sangat beragam bentuk dan fungsi. Beberapa di antaranya berupa guci, pot bunga, dan keramik dekoratif. Selain itu, terdapat patung, air mancur, serta produk terra cotta.

Kasongan juga dikenal dengan hasil kerajinan bernilai seni tinggi. Beberapa karya digunakan sebagai elemen dekorasi rumah. Tidak sedikit pula yang dijadikan pelengkap taman dan ruang terbuka.

Sejarah Kasongan berawal dari peristiwa pada masa penjajahan Belanda. Dikisahkan seekor kuda milik petugas Belanda mati di tanah warga. Pemilik tanah khawatir akan menerima hukuman dari pemerintah kolonial.

Karena rasa takut tersebut, warga tersebut melepaskan hak kepemilikan tanahnya. Tindakan itu kemudian diikuti oleh beberapa warga lain. Akibatnya, sejumlah bidang tanah berpindah tangan.

Warga yang kehilangan tanah akhirnya mencari mata pencaharian baru. Mereka mulai mengolah tanah liat yang tersedia di sekitar permukiman. Dari proses itu, lahirlah kerajinan sederhana berupa mainan dan alat dapur.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X