Dalam tahap berikutnya, institusi keraton berperan penting. Kekuasaan Islam di pedalaman mengorganisasi penyebaran tradisi.
Melalui keraton, kepercayaan gaib dilembagakan dalam budaya. Tradisi itu kemudian diwariskan lintas generasi.
Pengaruh Champa tidak hanya tampak dalam kepercayaan. Ia juga hadir dalam kebiasaan bahasa sehari-hari.
Panggilan kepada ibu berubah menjadi “mak”. Sebutan ini menggantikan istilah Majapahit seperti “ina” dan “ra-ina”.
Di pesisir utara Jawa, sebutan “mak” masih digunakan hingga kini. Wilayah ini terkait tokoh-tokoh penting Islam Jawa.
Kebiasaan memanggil kakak dengan “kak” atau “kang” juga berkembang. Sebutan lama “raka” mulai ditinggalkan.
Begitu pula panggilan adik berubah menjadi “adi”. Sebutan “rayi” semakin jarang digunakan.
Perubahan bahasa ini berjalan seiring penyebaran Islam ke pedalaman. Jejak Champa pun menetap dalam keseharian masyarakat Jawa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Iptu Rudiana Blak Blakan Sumpah Pocong, Gimana dalam Pandangan Islam? Ustadz Khalid Basalamah Beri Tanggapan Tegas
Buktikan Dirinya Tak Bersalah dalam Kasus Pembunuhan Vina Cirebon, Saka Tatal Lakukan Sumpah Pocong di Padepokan Amparan Jati
Isi Sumpah Pocong Saka Tatal di Padepokan Amparan Jati Cirebon: Siap Diazab oleh Allah SWT
Apa Itu Sumpah Pocong? Inilah Sumpah yang Disebut-sebut Tradisi Jawa Timur hingga Akibatnya Jika Berdusta
Asal Usul Masjid Madegan di Pulau Madura, Dibangun Raja Sampang hingga Jadi Tempat Ampuh untuk Sumpah Pocong