Para ibu rumah tangga mengelola lahan sempit di lingkungan permukiman. Pekarangan rumah dimanfaatkan menjadi kebun sayur yang tertata. Upaya tersebut membuka peluang ketersediaan pangan di kawasan perkotaan.
Selain pekarangan, penanaman sayur juga dilakukan di sepanjang gang kampung. Sudut kiri dan kanan gang dimanfaatkan sebagai media tanam. Dari upaya tersebut, terbentuk lorong-lorong sayur yang hijau dan segar.
Lorong sayur menjadi ciri khas Kampung Bausasran. Hingga saat ini, tercatat terdapat 16 lorong kampung sayur di wilayah tersebut. Keberadaan lorong ini menunjukkan konsistensi gerakan bercocok tanam warga.
Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan tergolong baik. Hal ini terlihat dari keberlanjutan kegiatan menanam sayur. Beberapa kelompok tani turut berperan dalam menjaga aktivitas tersebut.
Kampung Bausasran menunjukkan bagaimana ruang sempit perkotaan dapat dimanfaatkan secara optimal. Aktivitas bercocok tanam dilakukan tanpa mengubah fungsi dasar permukiman. Lingkungan tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman.
Perpaduan antara sejarah nama kampung dan gerakan kampung sayur membentuk identitas Bausasran. Kampung ini menjadi contoh pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi warga. Upaya tersebut terus berjalan hingga saat ini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Berawal dari Lorong Sempit, Kampung Suryatmajan di Timur Malioboro Kini Jadi Kampung Wisata Kreatif dan Sentra UMKM Warga
Dekat Malioboro, Kampung Suryatmajan Yogyakarta Disulap Jadi Kampung Wisata Lewat Mural, UMKM, dan Olahan Jamur
Ada Wisata Air dan Seni Tradisi, Kampung Wisata Kricak di Utara Kota Yogyakarta Jadi Destinasi Alternatif
Tradisi Perak di Jantung Yogyakarta, Inilah Pesona Kampung Wisata Purbayan Kotagede dengan Sejarah Mataram Islam
Kampung Wisata Dipowinatan Jogja: Pintu Masuk Urban Tourism dengan Atraksi Sosial Budaya dan Paket Blusukan Ramayana