Bahan utama legomoro umumnya berupa beras ketan dengan isian tertentu. Ketan dimasak hingga pulen sebelum dibungkus daun pisang.
Setelah itu, bungkusan diikat rapat agar bentuknya tetap terjaga.
Teknik pengikatan menjadi ciri khas yang membedakan legomoro dari lemper. Ikatan rafia atau janur berfungsi memperkuat struktur bungkusan.
Hasilnya, legomoro terlihat lebih padat dan rapi saat disajikan.
Dalam perkembangan waktu, legomoro tetap dipertahankan sebagai bagian tradisi.
Masyarakat Kotagede masih mengenal dan memproduksi kudapan ini. Keberlanjutannya menunjukkan kuatnya peran kuliner dalam menjaga memori sejarah lokal.
Legomoro juga sering dijumpai dalam acara budaya dan tradisi setempat. Kehadirannya menandai kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.
Nilai sejarah yang melekat menjadikannya lebih dari sekadar makanan ringan.
Sebagai warisan kuliner abad ke-17, legomoro mencerminkan kekayaan budaya Jawa.
Kudapan ini menjadi bukti bahwa makanan tradisional memiliki peran penting. Hingga kini, legomoro tetap dikenang sebagai simbol keramahan masyarakat Kotagede.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
7 Kuliner Kalimantan Tengah yang Menggugah Selera, Olahan Ikan hingga Sayur dari Batang Pohon Talas, Warisan Rasa dari Alam Borneo
Soto Sampah Jogja, Kuliner Unik yang Namanya Aneh tapi Rasanya Juara Sejak 1970-an
3 Fakta Menarik di Balik Lezatnya Sate Padang, Asal-Usul Kuliner hingga Bumbu Rahasia Asli dari Minangkabau
Asal-Usul Kerak Telor, Kuliner Khas Betawi yang Ditemukan Secara Tidak Sengaja, Makanan Favorit Para Elit di Tahun 1970-an
Wisata Malam Jogja yang Selalu Bersinar: Rahasia Taman Pelangi Monjali dengan Lampion Raksasa, Wahana Seru, dan Spot Kuliner dalam Satu Area