Minggu, 19 Juli 2026

Kuliner Tua dari Kotagede: Roti Kembang Waru yang Pernah Eksklusif Bangsawan Kini Bisa Dinikmati Semua Orang

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 11 Januari 2026 | 22:00 WIB
Roti Kembang Waru yang merupakan warisan Mataram Islam. (Jogjakota.go.id)
Roti Kembang Waru yang merupakan warisan Mataram Islam. (Jogjakota.go.id)

SketsaNusantara.id - Kotagede Yogyakarta dikenal sebagai kawasan bersejarah dengan peninggalan budaya yang masih terawat.

Selain bangunan dan tradisi, wilayah ini juga menyimpan kekayaan kuliner. Berbagai makanan khas masih diproduksi secara turun-temurun.

Salah satu jajanan tradisional yang masih bertahan adalah Roti Kembang Waru. Makanan ini dikenal luas oleh masyarakat Kotagede.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kuliner 'Miskin' di Yogyakarta yang Kini Jadi Favorit Semua Kalangan

Keberadaannya lekat dengan sejarah panjang kawasan tersebut.

Roti Kembang Waru memiliki bentuk menyerupai bunga waru yang sedang mekar. Warna kecokelatan menjadi ciri khas tampilannya. Tekstur luarnya sedikit renyah, sementara bagian dalam terasa lembut.

Dilansir dari Jogjakota.go.id, jajanan ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, Roti Kembang Waru kerap disajikan dalam acara adat. Kue ini juga hadir dalam berbagai upacara penting.

Baca Juga: Rejowinangun Jadi Kampung Wisata Unggulan di Kotagede dengan Edukasi Agro, Kuliner Unik, Seni Tradisi, dan Paket Wisata

Pada awal kemunculannya, Roti Kembang Waru tidak dibuat secara bebas. Produksinya terbatas di lingkungan keluarga bangsawan. Hanya kalangan tertentu yang dapat menikmati sajian tersebut.

Seiring perkembangan waktu, pembuatannya mulai dikenal masyarakat luas. Resep dan teknik pembuatannya diwariskan lintas generasi. Hal ini membuat keberadaannya tetap terjaga hingga sekarang.

Roti Kembang Waru menjadi bagian dari identitas kuliner Kotagede. Keberadaannya melengkapi citra kawasan sebagai pusat tradisi. Wisatawan kerap mencari jajanan ini saat berkunjung.

Bahan yang digunakan dalam pembuatan Roti Kembang Waru relatif sederhana. Proses pengolahannya dilakukan dengan teknik tradisional. Bentuk bunga dibuat menggunakan cetakan khusus.

Penyajian Roti Kembang Waru biasanya dilakukan tanpa tambahan hiasan. Bentuk dan warna alami sudah menjadi daya tarik utama. Cita rasanya mencerminkan karakter kue tradisional Jawa.

Dalam berbagai kegiatan adat, kue ini masih sering dihadirkan. Kehadirannya dianggap sebagai pelengkap sajian tradisi. Nilai historis menjadi alasan utama pelestariannya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Jogjakota.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X