Di lingkungan keluarga, beliau mengambil langkah tidak lazim. Anak-anaknya tidak selalu dibesarkan di dalam keraton. BRM Dorodjatun dititipkan pada keluarga Belanda sejak usia empat tahun.
Langkah tersebut berlandaskan prinsip hidup yang diyakininya. Ungkapan yang menjadi pegangan adalah, “wong sing kalingan suka, ilang prayitane”.
Pada 1939, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memanggil BRM Dorodjatun dari Belanda. Di Batavia, beliau menyerahkan pusaka Kyai Joko Piturun. Penyerahan itu menandai penunjukan penerus tahta.
Tak lama setelah kembali ke Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII wafat. Ia meninggal pada 22 Oktober 1939 di Rumah Sakit Panti Rapih. Jenazahnya dimakamkan di Astana Saptarengga, Imogiri.
Warisan pemerintahannya masih terasa hingga kini. Perombakan fisik kraton berlangsung pada era tersebut. Di bidang seni, banyak tari klasik gaya Yogyakarta diciptakan dan dibakukan. Masa itu juga dikenal sebagai puncak kejayaan wayang wong.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Bukan Sekadar Olahraga Biasa, Inilah Jemparingan, Panahan Asli Yogyakarta yang Menanamkan Watak Ksatria dan Bentuk Refleksi Diri
Raja Cilik Yogyakarta yang Dibesarkan Pangeran Diponegoro dan Wafat di Usia Muda
Pertama di Indonesia, Ini 5 Fakta Wayang Beber, Pertunjukkan Seni Wayang yang Dibentangkan, Tertua Ada di Pacitan dan Yogyakarta
Jadi Raja saat Masih Berusia 3 Tahun, Begini Cara Sri Sultan Hamengku Buwono V Menyelamatkan Yogyakarta Tanpa Pertumpahan Darah
Segera Nikah! Intip Foto Prewedding Boiyen dengan Sang Calon Suami, Momen Romantis di Yogyakarta