Minggu, 19 Juli 2026

Sri Sultan Hamengku Buwono VI: Dari Pangeran Mangkubumi, Gempa Dahsyat 1867, hingga Warisan Penting Kasultanan Yogyakarta

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 11 Desember 2025 | 21:00 WIB
Sri Sultan HB VI. (Kratonjogja.id)
Sri Sultan HB VI. (Kratonjogja.id)

SketsaNusantara.id - Sri Sultan Hamengku Buwono VI merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta.

Riwayat hidupnya meliputi masa kecil sebagai bangsawan, perjalanan politik, hingga bencana besar yang terjadi saat ia memimpin.

Catatan tentang kehidupannya menunjukkan peran besar yang ia jalankan sepanjang masa pemerintahannya.

Baca Juga: Mengapa Sultan Agung Tidak Pernah Menyerang Cirebon? Inilah Alasan yang Tak Banyak Dibahas dalam Catatan Sejarah

Dilansir dari Kratonjogja.id, beliau lahir dengan nama Gusti Raden Mas Mustojo pada 10 Agustus 1821. Ia merupakan putra Sri Sultan Hamengku Buwono IV dari permaisuri GKR Kencono.

Pada 1839, setelah dikenal sebagai Pangeran Adipati Mangkubumi, ia menerima pangkat Letnan Kolonel dari pemerintah Hindia Belanda. Pangkat tersebut kemudian meningkat menjadi Kolonel pada 1847.

Situasi politik berubah setelah Sri Sultan Hamengku Buwono V wafat tanpa meninggalkan putra. Tiga belas hari sesudahnya, permaisuri GKR Sekar Kedaton melahirkan seorang putra bernama GRM Timur Muhammad.

Baca Juga: Keunikan Kopiah Riman, Warisan Sultan Iskandar Muda yang Terbuat dari Serat Pohon Aren, Ada sejak Abad ke-17 Masehi

Namun, pemerintah kolonial menetapkan Pangeran Adipati Mangkubumi sebagai Sultan Hamengku Buwono VI. Penobatan berlangsung pada 5 Juli 1855.

Ketika berusia 27 tahun, beliau menikahi GKR Kencono, putri Susuhunan Paku Buwono VIII. Pernikahan ini memperbaiki hubungan antara Yogyakarta dan Surakarta yang lama berada dalam ketegangan sejak Perjanjian Giyanti. Hubungan antarkerajaan semakin kuat setelah beliau menikahi putri Kerajaan Brunei.

Gaya pemerintahan beliau mengikuti model yang sebelumnya diterapkan oleh kakaknya. Pendekatan ini berbeda dengan sikapnya sebelum naik tahta, ketika ia dikenal cukup keras menentang kebijakan tersebut.

Pergeseran sikap itu kemudian memunculkan kegelisahan politik di lingkungan Kasultanan. Dalam masa tersebut, Patih Danurejo V mendampingi beliau dan dikenal pandai menyelesaikan persoalan yang muncul.

Pada masa pemerintahannya, terjadi gempa besar di Yogyakarta pada 10 Juni 1867. Peristiwa tersebut mengakibatkan sekitar 500 korban jiwa dan merusak ratusan bangunan.

Kerusakan terjadi pada Keraton, Tugu Golong Gilig, Tamansari, hingga Mesjid Gedhe. International Handbook of Earthquake and Engineering Seismology mencatat kekuatan gempa tersebut mencapai 6,8 SR.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kratonjogja.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X