SketsaNusantara.id - Sultan Agung dikenal sebagai pewaris tahta Mataram yang berpengaruh pada abad ke-17.
Ia naik tahta pada 1613 dan memerintah hingga wafat pada 1646. Catatan sejarah menempatkannya sebagai pemimpin yang tegas dan memiliki kemampuan militer yang kuat.
Karakter tersebut sering dikaitkan dengan pengaruh para pendahulunya.
Baca Juga: Silsilah Prabowo Subianto, Punya Garis Keturunan Sultan Agung, Masa Kecil Berpindah-pindah Negara
Setelah naik tahta, Sultan Agung memulai ekspansi besar ke wilayah Jawa Timur. Berbagai kerajaan dapat dikuasai dalam waktu singkat. Wirasaba dikuasai pada 1615.
Tahun berikutnya menyusul Lasem. Pasuruhan jatuh pada 1617. Tuban berhasil dikuasai pada 1619. Madura ditaklukkan pada 1624. Surabaya yang menjadi saingan utama dapat ditaklukkan pada 1625.
Giri menyusul pada 1636 dan Blambangan pada 1639. Ekspansi ini menempatkan Mataram sebagai kekuatan dominan di Jawa bagian timur.
Setelah keberhasilan itu, wilayah barat menjadi sasaran berikutnya. Serangan ke Batavia dilakukan pada 1628 dan 1629. Upaya ini belum memberikan hasil yang diharapkan.
Catatan menyebut hambatan logistik dan teknologi persenjataan. Ada pula dugaan pembelotan seorang prajurit yang menunjukkan lokasi perbekalan Mataram di Tegal. Gudang itu kemudian dibakar.
Serangan tersebut juga dipengaruhi kondisi pasukan yang sedang dilanda wabah penyakit.
Kegagalan itu tidak menghapus dampak politiknya. Upaya menyerang Batavia membuat penguasa daerah di luar Jawa memberi perhatian besar pada kekuatan Mataram.
Namun ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam kajian sejarah. Mengapa Sultan Agung tidak pernah menyerang Cirebon, padahal ia berencana menaklukkan wilayah barat dan bahkan menargetkan Banten.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI XVII, beberapa sumber menjelaskan alasan yang membuat Cirebon tidak masuk daftar sasaran.
Artikel Terkait
Favorit Sultan Agung, Lemper Raksasa Jadi Simbol Upacara Adat Rebo Wekasan, Punya Makna Mendalam
Siapa Tumenggung Endranata? Sosok yang Dikenang Sebagai Pengkhianat Sultan Agung dan Diperlakukan Tragis Hingga Kini
Makam Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Tidak Mewah, tapi Jadi Pusat Peziarah Masyarakat di Bantul?
Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa
Demi Kekuasaan dan Kestabilan Kerajaan, Benarkah Sultan Agung Raja Mataram Menikah dengan Ratu Kidul?