Pertama, Cirebon diperintah keturunan Sunan Gunung Jati dan dikenal sebagai penerima Islam lebih awal. Posisi itu membuat Mataram memandang Cirebon sebagai kerajaan yang dihormati. Panembahan Ratu yang memimpin Cirebon ketika itu juga berusia lebih tua. Ia dipandang sebagai guru bagi Sultan Agung.
Alasan kedua terkait hubungan yang terjalin antara dua kerajaan. Rekam sejarah menunjukkan adanya hubungan persahabatan dan kekeluargaan.
Sumber menyebut sebuah pesan penting: “sebelum Panembahan Senopati wafat ia telah mewasiatkan kepada putranya agar tetap melestarikan hubungan baiknya dengan Cirebon.” Wasiat ini menjadi faktor yang sering disebut dalam kajian ekspansi Mataram.
Faktor ketiga berhubungan dengan strategi penaklukan. Cirebon dianggap sebagai jembatan yang dapat mempermudah langkah menuju Banten jika serangan ke Batavia berhasil. Kedudukan itu memberi nilai taktis sehingga penyerangan terhadap Cirebon tidak menjadi pilihan.
Catatan sejarah memperlihatkan langkah Sultan Agung dalam melihat peta politik masa itu. Ekspansi ke timur berlangsung cepat. Upaya menembus barat menghadapi hambatan besar.
Dalam konteks inilah alasan tidak diserangnya Cirebon dapat dipahami sebagai bagian dari strategi politik yang terbentuk oleh kondisi dan hubungan antar kerajaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Favorit Sultan Agung, Lemper Raksasa Jadi Simbol Upacara Adat Rebo Wekasan, Punya Makna Mendalam
Siapa Tumenggung Endranata? Sosok yang Dikenang Sebagai Pengkhianat Sultan Agung dan Diperlakukan Tragis Hingga Kini
Makam Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Tidak Mewah, tapi Jadi Pusat Peziarah Masyarakat di Bantul?
Ki Ageng Jejer Guru Sultan Agung: Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa
Demi Kekuasaan dan Kestabilan Kerajaan, Benarkah Sultan Agung Raja Mataram Menikah dengan Ratu Kidul?